Biografi karya dan pemikiran dari muhamad abduh
Autiya Nila Agustina 2030210073
Autiyaagustina7@gmail.com
BAB I
Silsilah & Biografi
Implikasi dominasi ekonomi dan kolonial Barat (Eropa) terus berlangsung sampa masa sekarang. Pemerintahan kolonial merusak keseimbangan konstitusi yang telah membentuk sistem masyarakat Muslim pra-modern dan menimbulkan kemunduran kekuatan politik masyarakat Muslim seluruh dunia serta menimbulkan regresi di beberapa wilayah ttertentu. Sebelum itu, alangkah baiknya jika kita membahas terlebih dahulu tentang pengertian modern. Menurut Harun Nasution modern dalam masyarakat Eropa berarti megandung arti fikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah faham-faham, institusi-institusi lama, dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Harun, 1982: 11).
Pikiran modernisme di Eropa segera memasuki lapangan agama dengan tujuan menyesuaikan ajaran Katolik dan Protestan dengan filsafat modern. Perpaduan ini faktanya memunculkan sekularisme di masyarakat Eropa. Pemikiran modern yang sekuler ini selanjutnya lebih manis di kemas dengan kata Renaisans atau Pencerahan. Modernisme Eropa ini juga pada gilirannya yang membuat mereka mendominasi perpolitikan wilayah dunia Islam. Tidak hanya di pusat pemerintahan Islam saat itu yaitu Turki Utsmani, campur tangan politik Eropa juga terjadi di wilayah lain seperti Asia Tenggara, India, Timur Tengah, dan Afrika Utara.
A. Silsilah Muhammad Abduh
Nama asli Syekh Muhammad Abduh adalah Muhammad bin Hasan bin Hasan Khairullah. Ia lahir pada di desa mahallat nashr dekat delta sungai nil, provinsi Gharbiah di mesir hilir tahun 1265 H/1849 dan wafat tahun 1905 M. Muhammad Abduh lahir dari pasangan Abduh bin Khairullah, seorang petani miskin di Mahallat Nasr, dan Junainah binti Utsman al-Kabir, seorang janda dari keluarga terkemuka Tanta.
Nama ayahnya adalah Abduh Hassan Khairullah, yang berasal dari Turki. Nama ibunya adalah Junaidah Utsman yang memiliki silsilah keluarga dengan Umar bin Khattab. Keluarga Muhammad Abduh dikenal berpegang teguh pada ilmu dan agama. Muhammad Abduh lahir dan besar di lingkungan pedesaan di bawah asuhan ayah dan ibunya yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan formal tetapi memiliki jiwa religius yang kuat.
Nama ayah Muhammad Abduh adalah Abduh Ibn Hasan Kairara dari Turki yang lama tinggal di Mesir. Ibunya berasal dari desa terdekat Tanta, mis kawasan Gharbiyah (Adams, 1968; Faqihuddin, 2021). Ibunya orang Arab dan Silsilah suku Umar bin al-Khattab. Muhammad Abduh tumbuh dewasa Orang dewasa diasuh oleh kedua orang tuanya meskipun tidak berada di lingkungan kelas sekolah, tetapi ada keteguhan religius dalam jiwanya.
Ketika Abduh lahir, Mesir berada di bawah satu penguasa Muhammad Ali, yakni raja mutlak. Raja yang menguasai sumber kekayaan,
terutama tanah, pertanian dan perdagangan. Di distrik-distrik, para pejabat Ali secara ketat menjalankan keinginan dan perintahnya. Orang merasa tertekan. Untuk menghindari kekerasan, Karena pejabat yang lebih rendah, beberapa orang di kabupaten harus pindah, Orang tua Abduh juga mengalami situasi seperti itu.
B. Pendidikan
1. Menghafal Al-Qur’an
Muhammad Abduh, seorang pelajar Afghanistan yang setia, belum genap berusia 10 tahun Selama bertahun-tahun ia belajar membaca dan menulis dari orang tuanya. Ketika ayahnya bisa membaca dan menulis dengan baik, namanya adalah Abduh Hasan Khairullah, mengirimkannya ke Hafizh Ingatlah Al-Qur'an. Setelah dua tahun, ketika dia berusia 12 tahun, dia hafal seluruh Al-Qur'an.
Kemudian pada tahun 1862 dia dikirim ke Tanta untuk belajar di agama Al-Jami' al-Ahmadi. Saat belajar di sana selama dua tahun, dia melarikan diri dan putus sekolah. Alasannya karena dia tidak setuju dengan metode pembelajaran yang digunakan, yaitu metode verbal, menghafal. Itu sebabnya dia bersembunyi bersama ke rumah pamannya. Tapi setelah tinggal bersama pamannya selama tiga bulan, dia didorong kembali ke Tanta. Karena menurutnya itu sudah tidak berguna lagi belajar, jadi dia kembali ke desa asalnya dan berencana menjadi petani.
2. Menikah
Pada tahun 1865 ia menikah pada usia 16 tahun dan Kembalinya Muhammad Abduh terjadi seperti kebanyakan rumah. Sulit untuk menjadi cerita sampul dalam kehidupan pribadinya. Kemudian Muhammad Abduh berusaha hidup bermasyarakat karena memang begitu salah satu bagian penting dari masyarakat.
Mendekati empat puluh hari setelah pernikahannya, ayah dari Muhammad Abduh menyuruhnya kembali belajar di Masjid Ahmadiyah. seperti anak kecil Namun, Muhammad Abduh yang saleh mengikuti kemauan ayahnya. Dalam perjalanan, Muhammad Abduh membayangkan kebosanan menuntut ilmu Masjid Ahmadiyah, Muhammad Abduh kemudian membelot area gereja timur di sekitar distrik sebagian besar berpenduduk keluarga dan kerabat ayahnya Muhammad Abduh. Di tempat ini Muhammad Abduh bertemu Derwisy Khadar.
3. Berguru dengan pamannya
Darwis Khadar adalah syekh sufi (guru spiritual) asli. Pesan Syadzili, Darwisy menyampaikan pandangannya Kepada Muhammad Abduh. Untaian tasbih Sufi percakapan masa lalu Muhammad Abduh yang banyak berbuat lama kembali dari dunia pemikiran (dunia akademik), tercerahkan Muhammad Abduh menyelesaikan pertemuan dengan Darwisy. Aktivitas spiritual Muhammad Abduh kembali marak.
Seorang darwis masuk dalam kehidupan Muhammad Abduh dan menjadi guru spiritualnya. Diantara gejolak dalam kehidupan Muhammad Abduh. Darwis melanjutkan tak henti-hentinya menghujani Muhammad Abduh dengan berbagai Sains. Muhammad Abduh saja tidak mendapat pelajaran yang sulit seperti dunia sufi para darwis, tetapi ajaran etika dan moral dan praktik asketisme di dunia sufi. Ini tidak terlalu lama Dengan Muhammad Abduh Darwsy, tapi di luar pertemuan.
Muhammad Abduh seakan menemukan “roh” baru dan semangat baru penuh semangat mengarungi lautan ilmu. Dengan mistisisme. Rasa haus Muhammad Abduh di kala putus asa seakan sirna. Tetes Madu ajaran Tasawuf memberi energi baru bagi Muhammad Abduh. Muhammad Abduh lebih tertarik masuk kehidupan dunia tasawuf, bahkan dalam pengembaraannya di dunia tasawuf, Muhammad Abduh zuhud walau sesaat. Hal ini dilakukan oleh Muhammad Abduh sebagai bentuk keterasingannya menyangkut ajaran eksternal tasawuf Menurut Muhammad Abduh, banyak hal yang perlu dikritisi. Penasihat Darwsiy mengakhiri sikap Zuhud Muhammad Abduh dan membiarkannya.
4. Berguru Ke Al-Azhar
Pada tahun 1866, Muhammad Abduh pergi ke Al-Azhar. Tetapi situasi di Al-Azhar ketika Muhammad Abduh menjadi mahasiswa sana, masih dalam keadaan terbelakang dan kuno. Bahkan nanti Ahmad Amin al-Azhar berpandangan sebaliknya sebagai kebiasaan kafir. Membaca geografi, buku sains atau filsafat dilarang Memakai sepatu adalah bid'ah.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika Muhammad Abduh mempelajari filsafat, geometri, urusan dunia dan politik oleh seorang intelektual bernama Hasan Tawil. Tapi pelajaran ini Hasan Tawil memberinya lebih sedikit kepuasan. Pilihan Pencantumannya di al-Azhar juga kurang menarik perhatian. dia lebih Saya ingin membaca buku di perpustakaan Al-Azhar. Kepuasan Muhammad Abduh belajar matematika, etika, politik, filsafat, dia diterima oleh Jamaluddin al-Afghani. Salah satu hal di belakang Gagasan pembaharuan Muhammad Abduh merupakan lahirnya sikap Taqlid. Menurutnya, Taqlid memiliki tiga sifat dasar:
Pertama, untuk mengidolakan leluhur dan guru, kedua, untuk merayakan keagungannya pemimpin agama di masa lalu; dan ketiga, ketakutan akan kebencian dan kebencian dikritik ketika dia lolos dari masa tuanya.
Muhammad bertemu Abduh saat belajar di Al Azhar dengan Jamaluddin al-Afghani. Selain karakter Afghanistan terkenal di Mesir, juga dikenal sebagai penggagas kebebasan berpikir dalam agama dan politik. Pertemuannya dengan orang Afghanistan ini itu memiliki pengaruh besar pada perkembangan pemikiran wajar Muhammad Abduh. Sebuah hadiah khusus dari Afghanistan Muhammad Abduh memiliki jiwa pengabdian perusahaan, mengalahkan usia dan taklid. Terima kasih kerja keras Muhammad Abduh kemudian lulus ujian dengan nilai Alimiah di al-Azhar. Gelar yang membagi auditor Pernyataan ini menggunakan haknya untuk menggunakan gelar to alim, artinya memiliki hak untuk mengajar.
Setelah lulus kuliah di al Azhar, beliau mulai mengajar di bidang logika, teologi dan moral dan etika. Selain Al Azhar, Muhammad Abduh juga mengajar Dar al Saat itu, Ulum masih semacam akademi Didirikan untuk memunculkan mereka yang bisa memberi pendidikan modern di al Azhar. Di Dar al Ulum itulah Muhammad Abduh mengajar Muqaddimah dari Ibnu Khaldun dan Tahzib al Ahlaq Miskawaih. Pada saat yang sama, Muhammad Abduh diangkat sebagai guru bahasa Arab di sekolah bahasa yang mapan Khidive
Ketika al-Afghani diusir dari Mesir pada tahun 1879 karena dituduh mengorganisir gerakan melawan Khedevi Taufiq, Muhammad Abduh, yang ikut campur dalam masalah ini, diasingkan di luar kota Kairo. Namun pada tahun 1880 Muhammad Abduh diizinkan kembali ke Kairo dan diangkat sebagai redaktur al-Waqa'i al-Mishriyah, surat kabar resmi pemerintah Mesir. Di bawah kepemimpinan 'Abduh, al-Waqa'i tidak hanya mengutus al-Mishriyah berita resmi, tetapi juga artikel tentang kepentingan nasional Mesir
Pada tahun 1894 ia menjadi anggota Dewan Gubernur Al-Azhar, selama masa jabatannya Muhammad Abduh mendirikan madrasah untuk mempersiapkan siswa-siswa berprestasi yang nantinya akan masuk ke Perguruan Tinggi Al-Azhar.
Pada tahun 1899 ia kembali dikeluarkan dari dunia pendidikan dan diangkat menjadi Mufti Mesir. Dalam posisi ini dia berusaha Pelan-pelan reformasi sistem dan hukum pengelolaan wakaf. Bold diterbitkan pada berbagai hal pertimbangan sosial yang ia perhitungkan pembangunan modern secara serius. Dia memegang posisi ini sampai meninggal di Kairo 11 Juli 1905.
5. Wafat
Muhammad Abduh meninggal pada 11 Juli 1905. Banyak Orang-orang yang memberikan penghormatan di Kairo dan Alexandria bersaksi berapa banyak orang yang menghormatinya. Muhammad pastinya Abduh mendapat serangan silau yang keras dan tindakannya tampak blak-blakan, terutama dalam beberapa tahun terakhir hidupnya.
Di sisi lain, bagaimanapun, diakui bahwa Mesir dan Islam merasakan kehilangan seorang pemimpin yang dikenal lemah lembut dan sangat spiritual. Bahkan tidak jarang orang Yahudi dan Orang-orang Kristen menghormatinya sebagai seorang sarjana, seorang patriot dan seorang bangsawan besar.
BAB II
A. Latar Belakang Sosial
Salah satu ciri pemikiran teologi modern adalah rasional. Banyak tokoh Islam yangmencoba melakukan pemikiran itu di antaranya adalah Muhammad Abduh. Beliau adalah seorang tokoh salaf yang menghargai kekuatan akal dan tetap memegang teks-teks agama,meskipun ia tidak menghambakan diri pada teks-teks agama tersebut.
Muhammad Abduh seorang Pemikir Pembaru Islam yang sangat berpengaruh di dalamsejarah pemikiran Islam. Pemikirannya membawa dampak yang signifikan dalam berbagai tatanan kehidupan pemikiran masyarakat meliputi aspek penafsiran Al-Qur'an, pendidikan,social masyarakat, politik, peradaban dan sebagainya. Pemikiran Abduh begitu mendalam pengaruhnya bagi kehidupan umat Islam, baik di negeri kelahirannya Mesir, maupun duniaArab lainnya, bahkan sampai ke dunia Islam luar Arab seperti Indonesia. Kelahiran gerakan pembaharuan, seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Persaturan Islam tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pemikiran Muhammad Abduh. Bahkan pemikirannya tentang modernisme begitu dikenal dan banyak menjadi rujukan bagi para pemikir Barat.
Paradigma yang mendasari proses pembaruan di dunia Islam terutama didasarkan pada argumen bahwa prinsip dasar Islam mengandung benih-benih agama rasional, kesadaran sosial dan moralitas yang bisa menjadi dasar kehidupan modern. Rasionalitas juga dilihat mampu menciptakan sebuah elit keagamaan yang bisa mengartikulasikan dan menafsirkan makna nilai-nilai Islam yang sesungguhnya dan karenanya memberikan fondasi bagi lahirnya masyarakat baru.
B. Kemunduran umat Islam
Abduh berpandangan bahwa penyakit yang melanda negara-negara Islam adalah adanya kerancuan pemikiran agama di kalangan umat Islam sebagai konsekuensi datangnya peradaban Barat dan adanya tuntutan dunia Islam modern. Selama beberapa abad di masa silam, kaum Muslimin telah menghadapi kemunduran dan sebagai hasilnya mereka tidak mendapatkan dirinya sebagai siap sedia untuk menghadapi situasi yang kritis ini.
Ia berpendapat bahwa sebab yang membawa kemunduran umat Islam adalah bukan karena ajaran Islam itu sendiri, melainkan adanya sikap jumud di tubuh umat Islam. Jumud yaitu keadaan membeku/statis, sehingga umat tidak mau menerima peubahan, yang dengannya membawa bibit kepada kemunduran umat saat ini (al-Jumud ‘illatun tazawwul).Seperti dikemukakan ‘Abduh dalam al-Islam baina al-’Ilm wa al-Madaniyyah, ia menerangkan bahwa sikap jumud dibawa ke tubuh Islam oleh orang-orang yang bukan Arab, yang merampas puncak kekuasaan politik di dunia Islam. Mereka juga membawa faham animisme, tidak mementingkan pemakaian akal, jahil dan tidak kenal ilmu pengetahuan. Rakyat harus dibutakan dalam hal ilmu pengetahuan agar tetap bodoh dan tunduk pada pemerintah.
C. Karakteristik Ilmu Kalam
Tipologi pemikiran Muhamad Abduh dalam kalam tidak memiliki kekonsistenan terhadap aliran kalam tertentu. Sehingga para ahli sejarah pemikiran, tidak mampu mengidentifikasi Muhammad Abduh kepada salah satu aliran kalam. Tipologi pemikirannya berangkat dari pemahaman yang mendalam terhadap metodologi kalam yang digunakan oleh aliran-aliran kalam yang ada. Dalam hal tersebut terdapat beberapa hal yang di bahas dalam karakteristik pemikiran Kalam Muhamad Abduh yaitu diantaranya sebagai berikut:
1. Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu
a. Kedudukan Akal
Akal bagi Abduh harus ditempatkan dalam posisi yang proposional, sehingga ia menciptkan term baru, yaitu “Rasionalitas yang Islami”. Baginya akal walaupun memiliki peran yang besar dalam menilai segala macam persoalan, namun memiliki batas (as-Sulthan an-Niha’iyyah).Peran akal sendiri ditegaska oleh al-Qur’an untuk dipergunakan sebagai devaluasi alam semesta.
b. Fungsi Wahyu
Wahyu mempunyai “dwi fungsi”, yaitu memberi konfirmasi dan informasi, sehingga baginya wahyu itu sangat diperlukan untuk menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Akal dan wahyu mempunyai hubungan yang sangat erat, karena akal memerlukan wahyu, sementara wahyu itu tidak mungkin berlawanan dengan akal. Jika nampak pada lahirnya wahyu itu berlawanan dengan akal, maka Muhammad Abduh memberi kebebasan pada akal untuk memberi interpretasi agar wahyu itu sesuai dengan pendapat akal Bu Bu dan tidak berlawanan dengan akal. Dengan demikian, hubungan antara wahyu dan akal dapat terjalin harmonis.
b. Kebebasan Manusia
Bagi Abduh, disamping mempunyai daya pikir, manusia juga mempunyai kebebasanmemilih, yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia. Manusia dengan akalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan yang dilakukannya. Mengambil keputusan dengan kemauannya sendiri, dan selanjutnyamenwujudkan perbuatannya itu dengan daya yang ada dalam dirinya.
c. Dampak pemikiran kalam Muhammad Abduh
Dampak pemikiran Muhammad Abduh Itu terdapat dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Muhammad Abduh yakni karena:
- faktor situasi sosial keagaman. Muhammad Abduh berpendapat bahwa kejumudan pemikiran telah merasuki berbagai bidang kehidupan seperti bahasa, syari'ah, akidah, dan sistem masyarakat.
- faktor situasi pendidikan yang terjadi kalam itu. Dan selain itu ada suatu hal lain yaitu tentang kajian ilmu kalam Diantaranya pendapat Muhammad Abduh yaitu mendasarkan ilmu kalam modern kepada akal seperti kaum mu'tazilah. Sehingga pemuka-pemuka kalam modern lainnya setuju dan sependapat dengannya. Ia banyak mengemukakan tentang tuhan.
BAB III
Ide-Ide Pembaharuan Dan Pemikiran Muhammad Abduh
A. Latar Belakang Pemikiran dan Ijtihad Muhammad Abduh
Antara lain Blatar belakang dan pengaruh munculnya pemikiran dan ijtihad Muhammad Abduh juga demikian pengikut:
- Sikap hidup yang membentuk mereka keluarga dan gurunya, terutama Syekh Darwis dan Sayyid Jamaluddin al-Afghani
- Faktor budaya berupa pengetahuan terhadap informasi yang mereka peroleh di perguruan tinggi maupun di alam formal dan informal
- Situasi politik saat itu berpengalaman dalam lingkungan keluarganya di Maallat, Nasr yang menyebabkan kelemahan Keadaan umat Islam di Mesir
- Kondisi sosial masyarakat Sangat menyedihkan ketika itu terjadi Kemunduran intelektual umat Islam karena beberapa hal antara lain:
a. Taklid memiliki kebiasaan melawan ulama muslim
b. stagnasi atau berhenti (kebodohan) pikiran masyarakat muslim. Abduh melihat itu sebagai penyebab keterbelakangan masyarakat Sungguh menyedihkan Islam adalah hilangnya tradisi intelektual apa selanjutnya masalahnya adalah kebebasan berpikir.
Kondisi buruk dan keterbelakangan umat Islam disebabkan oleh faktor eksternal, sebagai hegemoni Eropa mengancam eksistensi masyarakat Muslim dan realitas batin semacam itu situasi di antara orang-orang umat Islam sendiri. Memiliki beberapa hal latar belakang atau pengaruh Pendalaman Pemikiran Muhammad Abduh dalam berbagai bidang seperti teologi, Syariah, kebijakan sosial dan yang terpenting Pendidikan. Muhammad Abduh adalah sosok yang akrab membawa semangat "tajdid".
Setiap pikiran dan setiap gerakan. Urusan tujuannya adalah untuk bangun pendapat di kalangan umat Islam diyakini bahwa ijtihad sudah dekat tutup jadi percaya saja dan keutamaan taklid. Pergerakan melaksanakan reformasi Islam Muhammad Abduh tidak bisa lepas dari pemikiran ilmu Sains. Gib salah salah satu karyanya yang paling terkenal, Tren Modern dalam Islam seperti yang Anda kutip Yasmansyah, menyebutkan empat program reformasi Muhammad Abduh. Ada empat agenda Pembersihan Islam berbeda efek dari ajaran dan praktik yang tidak ada benar, yaitu:
1. Purifikasi
Purifikasi atau pemurnian Ajaran Islam adalah tentang bisnis apa yang Muhammad Abduh lakukan untuk manggung dan penyebaran bid'ah dan takhayul yang menjadi hidup agama Islam Nanti itu juga wajib bagi umat Islam tuk menjauhi kesyirikan.
2. Reformasi
Reformasi pendidikan tinggi Islam berpusat pada Muhammad Abduh di universitas almamaternya, al-Azhar. ujar Muhamad Abduh bahwa wajib belajar tidak buku pelajaran saja.
Ini termasuk klasik Arab Dogma ilmu kalam terbukti, Namun, Islam adalah kewajiban Belajar juga ada di dalam mempelajari ilmu pengetahuan modern dan filosofi sebagai dasar dan ibu dari segala ilmu (Mother Of Sciences).
3. Pertahanan Islam
Muhammad Abduh lulus Risalahnya al-Tauhid bertahan Mendukung potret diri islami. Keinginannya untuk mengHapus benda asing adalah bukti bahwa Abduh masih menganut agama Islam. Muhammad Abduh tidak pernah Perhatian pada konsep filosofis anti-agama berkembang di Eropa.
Abduh tertarik pada perhatian menghadapi serangan Muslim dari Perspektif Ilmiah. Muhammad Abduh mencoba mempertahankan potret Islam berpendapat bahwa jika pikiran digunakan untuk kebaikan sebagaimana mestinya, hasilnya pasti akan tercapai dengan kebenaran ilahi dipelajari melalui agama.
4. Reformulasi
Mendesain ulang program Dieksekusi oleh Muhammad Abduh membukanya lagi pintu ijtihad mungkin. Menurutnya persaingan semakin menurun Umat Islam salah satunya disebabkan Karena tampilan tertanam menyatakan bahwa “pintu Ijtihad tertutup” pada manusia seorang muslim.
B. Ijtihad dan modernisasi Muhammad Abduhdalam Pendidikan Agama Islam
Sejarah modernisasi pendidikan Mesir sangat terhubung dengan gerakan tersebut reformasi Islam. Namun kesadaran historis pembaharuan Islam melakukan ekspedisi Dibuat oleh Napoleon Bonaparte di Mesir sejak 1798 Masehi sebuah ekspedisi.
Napoleon ini sadar Muhammad Ali Pasya (1805-1848 M) terlambat mengejar keterbelakangan umat Islam di Mesir dibandingkan dengan barat. Masalah ini yang menginspirasi Muhammad Ali Memodernisasi Mesir di berbagai daerah, juga di lapangan Pendidikan. Modernisasi pendidikan lakukan dengan pengaturan dengan institusi pendidikan Gunakan ide-ide ini tumbuh di Eropa karena menurut pandangannya, pendidikan di Mesir pergi dengan adopsi dan meliputi sistem dan kurikulum pendidikan Barat.
Di antara institusi Pendidikan yang didirikan oleh Muhammad Ali bin Abi Thalib adalah sekolah militer (1815), Fakultas Kedokteran (1827), Sekolah Apoteker (1829), sekolah Pertambangan (1839), sekolah Pertanian (1836) dan sekolah Terjemahan (1836). Guru-guru ajaran itu dibawa dari barat. Selain banyak diatur lembaga pendidikan modern, Muhammad Ali juga melakukannya melalui modernisasi pendidikan terjemahan ilmiah dari barat ke bahasa Arab.
Siti Rohmaturrosyidah, Ijtihad Dan modernisasi pendidikan Islam keinginannya, lalu Muhammad Ali membubarkan para siswa negara seperti Prancis, Inggris, dalam bahasa Italia atau Cekoslowakia mempelajari informasi yang berbeda pengetahuan dan teknologi tumbuh di sana. Muhammad Ali Pasha Agar untuk menciptakan generasi penerus memiliki informasi Tentang Eropa dan bahasanya. Nanti siswa dapat mentransfer sains barat dan peradaban dalam bahasa arab (menerjemahkan buku ke dalam bahasa arab) sehingga ilmu dapat ditawarkan di sekolah menggunakan kata pengantar Bahasa Arab.
Tapi sementara itu sistem pendidikan tradisional sudah ada dan disimpan dipimpin dan diarahkan oleh al-Azhar, biasanya ulama al-Azhar juga sangat ditentang munculnya sekolah modern karena dianggap mampu nilai-nilai yang dikonsumsi dan pudar agama yang dibangun dan menunggu sepanjang waktu. Sistem Pendidikan begitulah di endgames menimbulkan dualisme di bidang ini Pendidikan di Mesir di mana institusi Pendidikan kemudian dibagi dalam dua jenis yang sangat jauh berbeda Tipe pertama adalah Sekolah modern yang bagus pemerintah atau bangsa asing Meskipun pria yang berbeda adalah sekolah agama dimana al-Azhar adalah sebuah institusi pendidikan tinggi jenis ini.
Kedua jenis ini tidak saling eksklusif berhubungan satu sama lain, melainkan semua orang berdiri sendirian di dalam memenuhi dan mencapai kebutuhan tujuan pendidikan. Sekolah dengan tipe pertama kurikulum yang memberikan pengetahuan Tidak ada pengetahuan tentang Barat berisi informasi keagamaan sama sekali. Sekolah dengan tipe yang berbeda, mis al-Azhar, hanya berisi informasi pengetahuan agama saja tanpa mengajarkan ilmu lebih modern daripada di Barat, oleh karena itu perkembangan rohani yang mengarah pada dualisme pelatihan seperti itu menciptakan dua kelas sosial roh yang berbeda.
Sekolah yang luar biasa pertama kali melahirkan generasi kelas elit muda dengan segala ilmunya ilmu pengetahuan barat tanpa bersebelahan dengan ilmu Agama Walaupun beda sekolah menghasilkan ahli dalam agama dan akhlak masyarakat enggan berubah dan untuk Menjaga tradisi. Muhammad Abduh melihat sisi negatif dari keduanya Model pendidikan seperti itu yaitu membuatnya melakukannya Melakukan perbaikan sistem pendidikan sebagai perusahaan membangkitkan umat Islam kembali dari kecacatan &Stagnasi Antara upaya (ijtihad) Muhammad Abduh melakukannya dalam reformasi sistem pendidikan Islam di Mesir adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Abduh tujuannya Pendidikan adalah untuk menumbuhkan akal dan jiwa dan menyebarkannya batas yang mungkin Manusia mencapai kebahagiaan duniawi kemudian. tujuan pendidikan Desain Abduh meliputi aspek mental dan spiritual. Abduh dari sudut pandang bahwa jika bagian dari makna dan mental terlatih dan paling-paling, itulah yang dilakukan umat Islam kompetitif dalam penguasaan dan mengembangkan ilmu dan menciptakan budaya tinggi.
Pendidikan itu untuk Abduh, Pendidikan yang bagus dalam Prosesnya bisa berkembang terutama seluruh karakter siswa Sifat akal dan agama. Dengan sifat nalar, siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikir sesuai Menurut sifat agama saya akan Benamkan diri Anda dalam pilar-pilar kebaikan siswa setelahnya akan mempengaruhi semua aktivitasnya.
Dari tujuan pendidikan diatas Sangat jelas bahwa Muhammad Abduh berharap bahwa proses pendidikan dapat membentuk kepribadian Muslim seimbang antara tubuh dan spiritual dan kecerdasan dan Moralitas. Jadi bukan pendidikan hanya hadir dan Penekanan pada perspektif perkembangan kognitif (nalar) saja, tetapi juga harus membidik Pengembangan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan).
Pendidikan seharusnya Perhatikan aspek material rohani sekaligus. sudut pandang ini adalah kritiknya terhadap situasi dan kegiatan pendidikan di Mesir kembali ketika pendidikan itu adil menekankan perkembangannya hanya terlihat mengabaikan penampilan lain. Kurikulum Pendidikan Islam Untuk mencapai tujuan pendidikan yang diimpikannya Disusun oleh Muhammad Abduh. Kurikulum Pendidikan Islam dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Namun secara umum, Abduh Garis bawahi mata itu Pelajaran agama harus diambil di pusat semua mata pelajaran tingkat pendidikan terendah (usia awal) ke tingkat pendidikan paling tinggi Yaitu pendidikan agama harus diberikan sedini mungkin. Sudut pandang ini adalah tentang pendapat bahwa ajaran Islam adalah dasarnya pembentukan jiwa dan kepribadian muslim. Dengan jiwaku sendiri kepribadian Muslim, orang-orang akan
Semangat kebersamaan dan sikap memperoleh nasionalisme mengembangkan cara hidup lebih baik untuk dapat mencapai pada saat yang sama kemajuan. Tentang kurikulum Diformat oleh Muhammad Abduh dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tingginya adalah sebagai berikut:
a. untuk sekolah dasar,
Program pelatihan meliputi: membaca, menulis, berhitung dll. Ajaran agama dengan materi Iman, Fiqh, Akhlak dan Sejarah Islam.
b. Untuk Media
Progam Pelatihan Meliputi : pengetahuan Logika (fann al-mantiq), dasar Penalaran (Alushul al-Nazari) Iman yang dibuktikan dengan argumentasi qat'i dan zanniy, fiqh, akhlak, Ilmu sejarah dan debat Islam Percakapan (adab aljadal).
c. Ke tingkat atas
Progam pelatihan meliputi: tafsir, hadits, Arab dengan segalanya cabang, moralitas dengan pembahasan detail sejarah Islam, retorika dll Sebagai bahan diskusi dan Ilmu Kalam.
Mulai dari pembuatan kurikulum di atas sangat jelas bahwa Abduh mencoba menghilangkan dualisme pendidikan kemudian. Abduh menginginkan semua sekolah untuk mengajar masyarakat untuk agama dan semua sekolah juga diharapkan secara tradisional menerapkan pengetahuan datang dari Barat. Juga membuat kurikulum, terutama di Sekolah Menengah Keatas melihat pendidikan Islam, menargetkan pendidikan nalar, yaitu dengan pelatihan siswa atau memperlengkapi mereka dengan pengetahuan yang mereka yakini. Berpikir kritis dan logis.
Anak-anak siswa memiliki pemikiran yang rasional Muhammad Abduh ingin memahami sains pengetahuan, khususnya agama jadi mereka mengajar karena agama itu nyata Muhammad Abduh mengerti dasar-dasarnya, jadi tidak Hanya dengan melakukan takrid buta, sucikan hasilnya Pertimbangkan ijtihad sebelumnya dan itu Tidak sebagai aturan mutlak dapat diubah menjadi tidak terikat Ijtihad yang benar-benar segar. Sehubungan dengan itu, Abduh Tunjukkan alasannya posisi yang sangat tinggi agama Islam. semboyan umum Dia mengutip: dīn liman lā'aql lah". Giliran agama tanpa akal dan agama Bagi yang tidak menggunakan Akal.
Metode pengajaran Islam, Muhammad Abduh dalam bidang metode pendidikan Implementasinya dikritik keras Menghafal tanpa pemahaman yang mendalam. Itu biasa digunakan di sekolah-sekolah, terutama sekolah agama, pada saat itu. Menurut Abdu, cara seperti itu hanya merusak ruh. Karena itu, dalam hal ini Abdu menekankan metode argumentasi (Munadharah) dan Mudzakarah.
Muhammad Abduh memberikan pemahaman yang mendalam kepada siswanya yang memungkinkan siswa nantinya membuat penalaran dan analisis yang tajam. Dengan demikian, siswa memiliki kredibilitas dalam mempelajari ilmu pengetahuan, khususnya agama, dan tidak hanya mengerjakan takrid. Bukan sekedar melakukan sesuatu, tetapi memahami sepenuhnya dasar dari setiap perbuatan yang dilakukan.
2. Pendidikan Bagi Ummat wanita
Pendidikan untuk wanita Mesir sangat terbatas. Urusan Ini karena adanya stereotip yang salah di antara orang-orang. Kemudian Islam. Stereotip mereka terbentuk dalam pemahaman mereka karena sudut pandang mereka yang konservatif ajaran Islam. perspektif dan akhirnya pemahaman mereka bagi para Perempuan teralienasi dalam dunia Pendidikan. Hak Anda Menolak pendidikan. mereka tidak bisa merasakan kegembiraan karena bisa dengan mudah pergi ke sekolah atau perguruan tinggi.
Dengan pemikiran dan gagasan tajedid, Akhirnya Muhammad Abdu bisa membawakanmu udara segar wanita bisa Mendidik diri seperti manusia agar terhindar dari kebodohan dan keterpurukan Al-Azhar Muhammad Abduh mereformasi sistem pendidikan Seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam menyongsong era baru bagi al-Azhar.
Abduh tidak hanya mereformasi institusi, tetapi juga mereformasi pemikiran keagamaan. pertempuran muhammad Abduh dalam mereformasi sistem pendidikan di al-Azhar bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan karena banyak ulama konservatif di kampus al-Azhar yang mati-matian menentang upaya reformasi Muhammad Abduh. Upaya awal reformasi sistem pendidikan al-Azhar yang dilakukan oleh Muhammad Abduh adalah memperjuangkan mata kuliah yang dianggap haram oleh para ulama al-Azhar, yaitu mata kuliah filsafat dan mantiq untuk diajarkan di al-Azhar.
Menurut dia, Dengan mempelajari kedua ilmu ini, diharapkan semangat intelektualisme Islam yang padam dapat kembali bersinar Lebih lanjut. Muhammad Abduh menyampaikan lima misi reformasi al-Azhar yang dilakukan atas kerjasama Syekh Hassunah al-Nawawi selaku Grand Syekh al-Azhar saat itu, yaitu:
a. Mengubah sistem halaqah menjadi sistem kelas terjadwal. Langkah ini penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa, karena sistem kelas ini terbukti merupakan salah satu sistem terbaik;
b. Melaksanakan ujian rutin untuk mengukur kemampuan akademik siswa yang meliputi kemampuan pemahaman dan hafalan, mengingat sebelumnya tidak ada sistem ujian rutin yang dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa kecuali hanya sekedar cek hafalan;
c. Gunakan buku-buku utama ditulis oleh para sarjana yang memiliki otoritas di dalamnya (karya asli dari ulama Sunni), daripada menggunakan kitab-kitab sekunder (syarh) ditulis sebagian guru. Hal ini dimaksudkan agar materi yang sampai kepada siswa merupakan pemikiran yang tepat sumber asli;
d. Memperkaya kurikulum dengan materi-materi baru, bahkan hal-hal yang tidak ada dalam khazanah keilmuan al-Azhar termasuk ilmu-ilmu modern dan sains seperti etika, sejarah, geografi, matematika, aljabar, geometri, dan geografi25;
e. Pengembangan perpustakaan dengan mengumpulkan koleksi literatur perpustakaan, sehingga siswa dapat memanfaatkan buku-buku tersebut dengan baik dan pengetahuan mereka menjadi lebih kaya.
Kelima misi tersebut berhasil dijalankan melalui kerja sama yang baik dengan Muhammad Abdouf dan Ulama Al-Azhar, khususnya Syekh Agung Al-Azhar, Syekh Hasnaar Al-Nawawi. Majlis al-Idah atau Dewan adalah lembaga yang dibentuk untuk menjalankan misi ini.
Perbaikan berikutnya Abduh melakukannya di lapangan administratif penting Biaya yang masuk akal untuk sarjana al-Azhar, jadi mereka tidak melakukannya upaya individu atau hadiah dari siswa Abduh. Melalui upaya tersebut Saya berharap para ulama benar-benar fokus dan tulus mendedikasikan perjuangan mereka mengembangkan Al Azhar, mendidik siswa Asrama Perempuan. beasiswa mahasiswa Abduh juga menambah jumlahnya. lebih-lebih lagi, Pengenalan sistem asrama juga dimulai. Untuk mahasiswa Al-Azhar memperhatikan struktur asrama untuk siswa ini.
Untuk tujuan administratif, Abduh membangun gedung lain Dan untuk membantu Rektor, Abdu mengangkat pejabat yang tadinya tidak ada. Sebelum perubahan ini, kediamannya selalu dikelilingi oleh ulama dan mahasiswa karena Rektor memerintahkan al-His al-Azhar dari rumahnya. Selain itu, untuk memajukan pendidikan, Abduh Libatkan orang kayanya dalam kegiatan pendidikan.
Abduh mengundang orang kaya Dia memperhatikan pendidikan. direkomendasikan Abduh membuka madrasah untuk orang kaya, Berikan dukungan keuangan untuk meratakan aula sekolah atau mereka. Pendidikan dan penguatan mental, kebangkitan jiwa Kebenaran dan Kelahiran Kembali, Pemurnian dan Pemberdayaan Jiwa Pengakuan tentang apa yang baik dan apa yang berbahaya. Dalam hal ini, Abdouf al-Jamiah menggerakkan Al-Hailiya al-Islamiyah (Asosiasi Masyarakat Islam) untuk memberikan pengajaran dan pendidikan serta membantu mereka yang membutuhkan.
Upaya Muhammad Abduh untuk memperbaharui sistem Pendidikan di Al-Azhar harus tepat dan strategis, karena banyak siswa dari seluruh dunia datang untuk belajar di Al-Azhar, selain sebagai universitas yang sangat dihormati oleh dunia Islam internasional. adalah langkah. Dengan cara ini alumni Al-Azhar bisa menyebar kemana-mana Membawa ide-ide inovatif untuk kemajuan, kepentingan masa depan.
C. Teologi
Menurut Muhammad Abdu-nya, teologi (ilmu monoteistik) memiliki dua mata pelajaran tentang Allah dan Nabi. Studi tentang Tuhan tidak hanya berbicara tentang wujud Tuhan, tetapi juga tentang manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu, sistem teologinya menemukan kajian tentang tingkah laku manusia (af'al-'ibad) dan mata pelajaran eksplosif lainnya. Penelitian berikut memusatkan pemikirannya pada tiga tema teologis: tingkah laku manusia, tingkatan, dan sifat-sifat ketuhanan.
1. Perbuatan manusia (Af'al al-'Ibad)
Pandangan Muhammad Abdu tentang perilaku manusia diawali dengan kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas memilih tindakannya. Menurutnya, ada tiga unsur yang mendasari tindakan: akal, kemauan dan kekuatan. Ketiganya adalah ciptaan Tuhan untuk digunakan manusia secara bebas.
Muhammad Abduh tampaknya sependapat dengan Muammar, bentuk Muqtazira, tentang kejadian-kejadian manusia dan makhluk dengan sifat dan kebiasaannya masing-masing. Muammar memahami bahwa sifat manusia adalah kebebasan memilih. Kemudian Muhammad Abdu menambahkan dengan alasan.
Oleh karena itu, akal dan kebebasan memilih adalah kodrat manusia, dua hak prerogatifnya yang tidak dilihat manusia pada makhluk lain. Jika salah satu dari keduanya hilang, Muhammad Abduh mengatakan dirinya tidak bisa lagi disebut manusia, melainkan malaikat atau binatang. Pendapat seperti itu tampaknya dikemukakan untuk mendukung keyakinannya bahwa manusia bebas memilih tindakannya. Juga bukan kebebasan mutlak. Ketika Abu al-Huzail membatasi kebebasan manusia dengan tindakan yang orang tidak tahu bagaimana melakukannya.
Muhammad Abduh mengkualifikasikannya dengan memberikan dua contoh yang berbeda: kelalaian (taqshir) dan sebab-sebab alamiah (al-asbab al-kauniyat), yaitu fenomena alam yang tidak terduga. Keduanya seolah terjadi karena manusia tidak bisa memprediksi semua yang terjadi. Ketidakberdayaan ini membatasi kebebasan manusia untuk memilih tindakannya. Dari sini ia menguraikan dua keputusannya yang mendasari perilaku manusia, yaitu:
• Orang melakukan sesuatu dengan kekuatan dan kemampuan mereka sendiri
• Kuasa Tuhan ada di balik semua yang terjadi
BAB III
KARYA
A. KARYA MUHAMMAD ABDUH
Sebenarnya, Abduh tidak terlalu sering menjatuhkan Dan mengatur sebuah pemikirannya dalam sebuah buku. Muhammad pastinya Abduh sering membagikan pemikirannya melalui pidato-pidatonya. Ini bisa dimaklumi karena waktunya sudah habis mengajar daripada menulis. Abduh pernah mengajar Al-Azhar, Masjid Agung Beirut, Masjid Agung Al-Basyarah, Dar Al-Ulum, dan beberapa lainnya. Menurut Muhammad Abduh, Pemikiran tentang itu disampaikan dengan bahasa yang menyentuh hati para pendengarnya, daripada menjelaskannya secara tertulis.
Namun, tidak terkait dengan karya-karya intelektual Muhammad Abduh tidak memiliki bentuk tertulis. Pengalamannya sangat mendalam. Dunia jurnalistik cukup menarik perhatian Abduh untuk menulis Kita dapat menemukan ini dalam karya yang bisa kami kelompokkan sebagai berikut:
1. Menulis karya di surat kabar dan majalah, seperti ditemukan di al-Ahram, al-Waqa'i, al-Misriyah, Samrat al-Funun dan alMu'ayyad dan al-Manar di bawah Muhammad Rasyid Ridha
2. Karya berupa komentar dan buku dari berbagai bidang seperti:
a. Buku Risalat al-Wardah, Kairo 1874 (kitab atau buku ini membahas Tentang Tasawuf dan Mistik)
b. Buku Hasyiyah 'ala ad-Dawani li al-'Aqa'id al-Adudiyah (Kairo 1876-1904)
c. Buku Risalah tentang ar-Rad 'ala ad-Dahriyin (buku ini merupakan salinan Jamaluddin Al-Afgan tentang menyerang materialisme sejarah, diterbitkan di Beirut 1886 dan di Mesir 1895)
d. Buku Syarh Nahj al-Balaghah (uraian karangan Saidina Ali, khalifah IV, terbit di Beirut 1885)
e. Buku Syarh Maqamat Badi’ az-Zaman al-Hamdani, Beirut 1889.
f. Buku Risalah at-Tauhid, Cairo 1897
g. Buku Syarh Kitab al-Basr al-Nasriyah fi al- ‘Ilmi wa al-Mantiq (isinya membahas tentang pengetahuan dan logika, Cairo 1897)
h. Tafsir Juz Amma
i. Tafsir Al-Qur an Hakim, yang diteruskan oleh muridnya, Muhammad Rasyid Ridha
j. Risalah At Tauhid
k. Banyak memberi tambahan dalam kitab-kitab, salah satunya Limaza taakhkhara Islam wa taqaddama ghairuhum, karya Syakib Arsalan.
D. Kesimpulan
Muhammad Abduh adalah tokoh pergerakan pembaharuan Islam di Mesir pada abad 19 M. Muhammad Abduh sebagai guru dari Rasyid Ridha adalah sosok yang sederhana, hal ini karena ia terlahir dari keluarga petani. Akan tetapi sejak dari kecil ia sudah diberikan pendidikan oleh kedua orang tuanya dengan menyekolahkannya di madrasah Islam di Thanta yaitu di Masjid Syaikh Ahmadi. Hingga ia melanjutkan studinya di Al-Azhar. Dari pengalamannya semasa muda, ia meresa bahwa pada saat itu umat Islam terlihat sangat terbelakang baik dalam segi pendidikan, ilmu pengetahuan, kemajuan peradabannya, perekonomian dan lain sebagainya. Ia bertekad untuk membawa umat Islam kembali Berjaya seperti pada zaman klasik.
Sehingga ia melakukan perubahan-perubahan dalam bidang keagamaan yaitu dengan memberatas faham-faham sesat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam bidang pendidikan yaitu dengan memperbarui system dan metode cara belajar, dan menambahkan ilmu pengetahuan umam kepada sekolah-sekolah Islam, dan menambahkan memperdalam pengetahuan agama kepada sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Dan yang terakhir dalam bidang politik dan sosial kemasyarakatan, dalam masalah model bentuk Negara Muhammad Abduh tidak menargetkan bentuk Negara yang eksklusif, yang terpenting pemerintah mampu membawa masyarakat pada kemajuan dengan menyesuaikan tuntunan zaman. Selain itu ia juga menegakkan kesetaraan gender corak pemikiran sosial dan juga pengetahuan Ilmu kalam yang sangat teliti untuk di kaji semua manusia agar tidak terjadi hal yang tidak baik dalam hidupnya.
E. Daftar pustaka
Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, Op. Cit, hlm, xiii-xiv.18 Ibid, hlm, Viii-I.
Fatkhur, Muhammad Abduh Tokoh Pembaharu Di Mesir Abad XIX (Study Tentang Pemikiran dan Perjuangannya), (Surabaya: Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Sunan Ampel, 1989), Skripsi, hlm, 56-57.
Ramayulis, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), hlm, 184-185.
Afif Azhari dan Mimien Mimunah, Op. Cit, hlm, 43.
Ali Mufrodi, Sejarah Di Kawasan Kebudayaan Arab, (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm, 160.
Ris‟an Rusli, Pembaharuan Pemikiran Modern Dalam Islam, (Jakarta: Rajagrafindo, 2013), hlm, 97-98.
Fatkhur, Muhammad Abduh Tokoh Pembaharu Di Mesir Abad XIX (Study Tentang Pemikiran Dan Perjuangannya), (Surabaya: Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1989), hlm, 15.
Mursyidi Latif, Manquk Dan Ma’quk Dalam Tafsir Juz’amma Karya Muhammad Abduh, (Yogyakarta: Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta), Skripsi, hlm,
Muhammad Abduh, Risala al-Tauhid (Risalah Tauhid),op. cit., hal. xii 20 Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (suatu studiperbandingan), hal. 125
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), PT.Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hal. 62
M. Quraish Shihab, Studi Kritis atas Tafsir al-Manar, cet .I, Lentera Hati, Jakarta2006 hal. 34
Muhammad Rasyid Ridha, al-Manar, Vol. VIII, hal. 399-400
Bagus Oreus, Kamus filsafat, cet. III, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
Barmawi, Bakir Yusuf, Sistem Pemikiran Teologi Muhammad Abduh, Makalah, t.k, tp., t.th.
Comments