Komunikasi Simbolik dalam Ritual Sedekah Laut di Pantai Kertojayan Purworejo (Telaah Interaksionisme Simbolik atas Tradisi Budaya Pesisir Selatan Jawa, Penulis: A. Rima Mustajab, Pendahuluan - Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Setiap wilayah memiliki tradisi yang lahir dari interaksi panjang antara manusia, alam, dan keyakinan religius yang berkembang di masyarakat. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah ritual sedekah laut, yang banyak ditemukan di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa. Ritual ini tidak sekadar peristiwa seremonial, melainkan juga peristiwa komunikasi budaya yang sarat makna simbolik.
![]() |
| Sumber Gambar: Dreaming Ai |
Di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, masyarakat pesisir di Pantai Kertojayan masih melestarikan tradisi sedekah laut sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, ruang pembentukan identitas kolektif, serta sarana penguatan nilai-nilai budaya Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam konteks ilmu komunikasi, ritual sedekah laut dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi ritual. Komunikasi tidak hanya dipandang sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan, tetapi sebagai proses pembentukan makna bersama melalui simbol-simbol yang digunakan dalam sebuah peristiwa sosial. Setiap sesaji, doa, pakaian adat, hingga prosesi pelarungan memiliki makna simbolik yang dipahami bersama oleh masyarakat.
Artikel ini membahas komunikasi simbolik dalam ritual sedekah laut di Pantai Kertojayan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead. Fokus pembahasan meliputi makna simbol, bahasa, interaksi sosial, serta bagaimana tradisi ini menjadi media pelestarian nilai budaya sekaligus pengembangan wisata bahari di Kabupaten Purworejo.
Landasan Teoretis
1. Komunikasi Ritual
Konsep komunikasi ritual berbeda dengan komunikasi transmisi. Jika komunikasi transmisi berfokus pada pengiriman pesan untuk mengubah sikap atau perilaku, komunikasi ritual lebih menekankan pada partisipasi, kebersamaan, dan pembentukan makna bersama.
James W. Carey menyebut komunikasi ritual sebagai proses berbagi (sharing), partisipasi, asosiasi, dan persekutuan yang memperkuat keyakinan serta nilai-nilai yang dianut bersama. Dalam ritual sedekah laut, komunikasi tidak hanya terjadi melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan simbolik seperti pelarungan sesaji, doa bersama, iringan gamelan, serta pakaian adat yang digunakan.
Ritual ini memperlihatkan bagaimana komunikasi berfungsi sebagai mekanisme pelestarian budaya. Nilai-nilai spiritual, solidaritas sosial, serta penghormatan terhadap alam disampaikan melalui simbol-simbol yang dipahami secara kolektif.
2. Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead
Teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead menekankan bahwa makna lahir dari interaksi sosial. Tiga premis utama dalam teori ini adalah:
- Mind (Pikiran) – Kemampuan manusia untuk menggunakan simbol dalam membangun makna.
- Self (Diri) – Konsep diri terbentuk melalui interaksi dengan orang lain.
- Society (Masyarakat) – Masyarakat adalah hasil interaksi simbolik yang terus-menerus.
Dalam ritual sedekah laut, simbol-simbol seperti tumpeng, kepala kambing, bunga, dan hasil bumi bukan sekadar benda, tetapi memiliki makna yang dibangun melalui interaksi sosial masyarakat pesisir. Makna tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sehingga membentuk identitas kolektif.
3. Pendekatan Fenomenologi
Pendekatan fenomenologi digunakan untuk memahami pengalaman subjektif masyarakat dalam menjalankan ritual sedekah laut. Perspektif ini menekankan pada bagaimana individu memberi makna terhadap pengalaman hidupnya.
Melalui fenomenologi, ritual tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya, tetapi sebagai pengalaman spiritual yang hidup dan dirasakan oleh masyarakat. Sedekah laut menjadi momen refleksi kolektif tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Sejarah dan Perkembangan Ritual Sedekah Laut di Pantai Kertojayan
Tradisi sedekah laut di Pantai Kertojayan telah berlangsung selama puluhan tahun dan dipercaya sebagai warisan leluhur masyarakat pesisir. Ritual ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan tertentu berdasarkan penanggalan Jawa.
Awalnya, ritual ini dilakukan secara sederhana oleh para nelayan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan laut. Namun seiring perkembangan waktu, tradisi ini berkembang menjadi perayaan besar yang melibatkan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta wisatawan.
Ritual ini merupakan bentuk sinkronisasi antara adat istiadat Jawa dan praktik religius Islam. Doa-doa yang dipanjatkan menggunakan bahasa Arab dan Jawa, menunjukkan adanya akulturasi budaya yang harmonis.
Elemen-Elemen Simbolik dalam Ritual
1. Sesaji
Sesaji merupakan simbol utama dalam ritual sedekah laut. Biasanya terdiri dari:
- Tumpeng
- Hasil bumi
- Kepala kambing
- Bunga setaman
- Jajan pasar
Setiap unsur memiliki makna. Tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Hasil bumi melambangkan rasa syukur atas rezeki. Kepala kambing sebagai simbol pengorbanan.
2. Prosesi Pelarungan
Pelarungan sesaji ke laut menjadi puncak acara. Tindakan ini melambangkan penyerahan diri dan permohonan perlindungan kepada Tuhan melalui simbol alam.
Dalam perspektif interaksionisme simbolik, pelarungan bukan sekadar membuang sesaji ke laut, tetapi tindakan simbolik yang sarat makna kolektif.
3. Bahasa dan Doa
Bahasa Jawa digunakan dalam sambutan dan doa tradisional, sementara bahasa Arab digunakan dalam doa Islam. Penggunaan dua bahasa ini menunjukkan identitas kultural dan religius masyarakat.
Makna Komunikasi Simbolik
Ritual sedekah laut memiliki beberapa makna utama:
- Ungkapan Syukur – atas hasil laut dan keselamatan.
- Permohonan Perlindungan – dari bahaya laut.
- Pelestarian Budaya – menjaga tradisi leluhur.
- Penguatan Solidaritas Sosial – mempererat hubungan masyarakat.
Makna-makna ini tidak lahir secara otomatis, tetapi dibentuk melalui proses interaksi sosial yang berulang.
Mind, Self, dan Society dalam Ritual
1. Mind (Pikiran)
Simbol dipahami melalui proses berpikir kolektif. Anak-anak belajar makna ritual dari orang tua dan tokoh adat.
2. Self (Diri)
Partisipasi dalam ritual membentuk identitas sebagai masyarakat pesisir.
3. Society (Masyarakat)
Ritual memperkuat struktur sosial dan mempererat hubungan antar warga.
Ritual sebagai Identitas Budaya dan Wisata Bahari
Seiring waktu, sedekah laut menjadi objek wisata budaya bahari di Kabupaten Purworejo. Pemerintah daerah mendukung penyelenggaraan ritual sebagai daya tarik wisata.
Namun, transformasi menjadi wisata membawa tantangan, yaitu menjaga keseimbangan antara nilai sakral dan nilai komersial.
Dinamika Modernisasi dan Tantangan
Modernisasi membawa perubahan dalam pelaksanaan ritual:
- Dokumentasi melalui media sosial
- Keterlibatan sponsor
- Perubahan skala acara
- Tantangan terbesar adalah menjaga makna simbolik agar tidak hilang.
Relevansi Akademik dan Kontribusi Penelitian
Kajian komunikasi simbolik dalam ritual sedekah laut memberikan kontribusi dalam:
- Studi komunikasi budaya
- Kajian antropologi komunikasi
- Pengembangan pariwisata berbasis budaya
- Penelitian ini menegaskan bahwa ritual bukan sekadar tradisi, tetapi proses komunikasi sosial yang kompleks.
Kesimpulan
Ritual sedekah laut di Pantai Kertojayan Purworejo merupakan bentuk komunikasi simbolik yang kaya makna. Melalui simbol, bahasa, dan interaksi sosial, masyarakat mengekspresikan rasa syukur, permohonan perlindungan, dan identitas kolektif.
Pendekatan interaksionisme simbolik menunjukkan bahwa makna ritual dibangun melalui proses sosial yang berkelanjutan. Ritual ini tidak hanya mempertahankan nilai budaya tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan wisata budaya bahari di Kabupaten Purworejo.
Dengan demikian, sedekah laut bukan sekadar tradisi, melainkan ruang komunikasi transendental dan sosial yang memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan masyarakat.
Referensi
- Carey, James W. (1989). Communication as Culture: Essays on Media and Society. Boston: Unwin Hyman.
- Mead, George Herbert. (1934). Mind, Self, and Society. Chicago: University of Chicago Press.
- Mulyana, Deddy. (2017). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
- Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
- Sugiyarto, Eko Agung. (2026). “Komunikasi Simbolik dalam Ritual Sedekah Laut di Pantai Kertojayan Purworejo.” Advances In Education Journal, 2(4), 322–331.
Media Penerbitan Artikel
Artikel rujukan utama:
Sugiyarto, Eko Agung. “Komunikasi Simbolik dalam Ritual Sedekah Laut di Pantai Kertojayan Purworejo.” Advances In Education Journal, Volume 2 Nomor 4, Tahun 2026, halaman 322–331. Diterbitkan oleh: journal.al-afif.org

Comments