(Ulasan Artikel: Jurnal Perawat Indonesia, Volume 5 No 1, Hal. 641–655, Mei 2021)
Penulis: Siti Aisah, Suhartini Ismail, Ani Margawati
Diterbitkan oleh: Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah
Pendahuluan: Masalah Edukasi Kesehatan di Era Generasi 4.0
Bayangkan seorang remaja putri menerima leaflet tentang anemia. Ia membukanya sebentar, membaca dua baris, lalu memasukkannya ke tas. Di rumah, leaflet itu mungkin terselip di antara buku matematika dan tidak pernah dibuka lagi. Informasi sudah diberikan. Tetapi apakah pengetahuan benar-benar terbentuk? Apakah sikap berubah? Apakah perilaku ikut bergeser?
Di sinilah problem klasik edukasi kesehatan muncul: penyampaian informasi tidak selalu berarti pemahaman.
Artikel berjudul “Edukasi Kesehatan dengan Media Video Animasi: Scoping Review” yang dipublikasikan dalam Jurnal Perawat Indonesia Volume 5 Nomor 1 (Mei 2021) mencoba menjawab persoalan ini secara sistematis. Penelitian tersebut menyoroti efektivitas media video animasi dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan, terutama dalam konteks generasi digital.
Kita hidup di zaman di mana manusia lebih sering menatap layar dibanding membaca buku cetak. Otak manusia berevolusi untuk menyukai gambar bergerak, warna, narasi visual, dan suara. Maka pertanyaannya sederhana: jika edukasi kesehatan ingin efektif, mengapa tidak menggunakan medium yang paling sesuai dengan karakter zaman?
Latar Belakang: Anemia Remaja dan Tantangan Edukasi
Salah satu fokus dalam artikel ini adalah peningkatan pengetahuan anemia pada remaja putri. Anemia bukan masalah kecil. Ia berdampak pada konsentrasi belajar, produktivitas, bahkan risiko komplikasi saat kehamilan di masa depan.
Selama ini, intervensi edukasi dilakukan dengan media konvensional seperti:
-
Leaflet
-
Booklet
-
Lembar balik
-
PowerPoint
Masalahnya bukan pada niat, tetapi pada efektivitas. Media konvensional bersifat satu arah, sering tekstual, dan kurang menarik bagi generasi yang tumbuh dengan YouTube, TikTok, dan Instagram.
Generasi 4.0 adalah generasi visual. Mereka lebih responsif terhadap konten audiovisual. Maka pendekatan edukasi kesehatan pun perlu berevolusi.
Metodologi: Apa Itu Scoping Review?
Penelitian ini menggunakan metode scoping review. Metode ini bertujuan memetakan secara luas hasil penelitian yang telah ada tentang suatu topik, bukan sekadar menjawab satu pertanyaan spesifik seperti dalam systematic review.
Dalam studi ini:
-
Database yang digunakan: ScienceDirect, Scopus, PubMed, dan SpringerLink
-
Rentang waktu pencarian: Januari 2015 – Desember 2020
-
Kata kunci utama:
“video education”
“video animation”
“health animation”
“animation media”
“animation for education”
Dari hasil pencarian, diperoleh 11 artikel yang memenuhi kriteria, terdiri atas:
-
1 artikel kualitatif
-
10 artikel kuantitatif
Artinya, kesimpulan yang dihasilkan bukan opini tunggal, tetapi sintesis dari berbagai penelitian internasional.
Mengapa Video Animasi?
Mari kita pahami secara ilmiah mengapa video animasi begitu potensial.
1. Teori Dual Coding
Otak manusia memproses informasi melalui dua jalur utama:
-
Jalur verbal (teks dan kata-kata)
-
Jalur visual (gambar dan simbol)
Ketika keduanya digabungkan, daya ingat meningkat secara signifikan. Video animasi menggabungkan teks, suara, gambar, gerak, dan emosi dalam satu paket.
Hasilnya? Informasi lebih mudah dipahami dan diingat.
2. Cognitive Load Theory
Teori beban kognitif menjelaskan bahwa otak memiliki kapasitas terbatas dalam memproses informasi. Jika materi terlalu kompleks atau terlalu tekstual, otak cepat lelah.
Video animasi dapat menyederhanakan konsep kompleks melalui ilustrasi visual. Misalnya:
-
Proses pembentukan sel darah merah
-
Mekanisme anemia
-
Dampak kekurangan zat besi
Konsep abstrak menjadi konkret.
3. Aspek Emosional dan Naratif
Manusia menyukai cerita. Jika edukasi kesehatan dibungkus dalam bentuk karakter animasi dengan alur cerita, pesan menjadi lebih hidup.
Informasi yang memiliki konteks emosional cenderung lebih mudah diingat dibanding data statistik kering.
Hasil Scoping Review: Apa Temuannya?
Dari 11 artikel yang dianalisis, hasilnya konsisten:
Video animasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan pada berbagai kelompok usia dan berbagai kondisi penyakit.
Beberapa temuan penting:
-
Video animasi meningkatkan pemahaman pasien secara signifikan dibanding media cetak.
-
Media ini dinilai menarik, artistik, dan mudah dimengerti.
-
Video animasi membantu menjelaskan prosedur medis dan konsep penyakit yang kompleks.
-
Intervensi berbasis video meningkatkan retensi informasi jangka pendek dan jangka menengah.
Menariknya, efektivitas ini tidak terbatas pada satu kelompok saja. Ia berlaku pada:
-
Anak-anak
-
Remaja
-
Dewasa
-
Pasien dengan kondisi penyakit tertentu
Artinya, pendekatan ini bersifat universal.
Mengapa Video Animasi Lebih Efektif?
Mari kita bedah lebih dalam.
1. Visualisasi Konsep Abstrak
Anemia bukan sesuatu yang terlihat langsung. Ia terjadi di tingkat seluler. Sulit membayangkan kekurangan hemoglobin hanya dengan teks.
Namun melalui animasi, proses tersebut bisa divisualisasikan:
Sel darah merah yang normal → berwarna cerah, membawa oksigen → tubuh segar.
Sel darah merah anemia → pucat, kurang oksigen → tubuh lemah.
Satu gambar bergerak sering kali lebih kuat daripada paragraf panjang.
2. Daya Tarik Estetika
Video animasi memiliki unsur warna, karakter, dan desain grafis. Otak manusia secara alami tertarik pada pola dan warna.
Hal ini meningkatkan perhatian (attention), yang merupakan tahap awal pembelajaran.
Tanpa perhatian, tidak ada pembelajaran.
3. Fleksibilitas Akses
Video dapat:
-
Diputar ulang
-
Dibagikan melalui media sosial
-
Diakses kapan saja
-
Digunakan dalam pembelajaran daring
Dalam konteks pandemi dan era digital, fleksibilitas ini menjadi sangat penting.
Relevansi di Indonesia
Indonesia memiliki populasi remaja yang besar. Masalah anemia pada remaja putri juga masih tinggi.
Mengandalkan media konvensional saja jelas kurang memadai.
Video animasi dapat:
-
Diputar di sekolah
-
Dibagikan melalui WhatsApp
-
Diunggah ke YouTube
-
Digunakan dalam program Puskesmas
Dengan penetrasi smartphone yang tinggi, pendekatan ini realistis dan aplikatif.
Implikasi bagi Tenaga Kesehatan
Penelitian ini menegaskan bahwa tenaga kesehatan perlu melihat peluang dari video edukasi sebagai intervensi strategis.
Namun ada catatan penting:
Video animasi bukan sekadar “lucu-lucuan”. Ia harus:
-
Berdasarkan evidensi ilmiah
-
Menggunakan bahasa yang sesuai audiens
-
Menghindari misinformasi
-
Dirancang dengan prinsip pedagogis
Tenaga kesehatan perlu bekerja sama dengan:
-
Desainer grafis
-
Animator
-
Ahli komunikasi kesehatan
Kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci.
Tantangan Implementasi
Meski efektif, penggunaan video animasi bukan tanpa hambatan.
Beberapa tantangan:
-
Biaya produksi relatif lebih tinggi dibanding leaflet.
-
Membutuhkan keterampilan teknis.
-
Tidak semua wilayah memiliki akses internet stabil.
-
Perlu validasi konten medis secara ketat.
Namun jika dibandingkan dengan dampak jangka panjangnya terhadap peningkatan pengetahuan dan pencegahan penyakit, investasi ini sangat layak dipertimbangkan.
Refleksi Lebih Luas: Masa Depan Edukasi Kesehatan
Jika kita berpikir lebih jauh, video animasi hanyalah awal.
Ke depan, edukasi kesehatan bisa berkembang menjadi:
-
Virtual reality simulasi kesehatan
-
Augmented reality untuk pembelajaran anatomi
-
Aplikasi interaktif berbasis game edukatif
Kita sedang memasuki era di mana batas antara hiburan dan edukasi semakin tipis.
Dan ini bukan hal negatif. Selama kontennya berbasis ilmiah, pendekatan visual interaktif justru dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Studi dalam Jurnal Perawat Indonesia ini memberikan kesimpulan kuat:
Media video animasi terbukti signifikan dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan pada berbagai kelompok usia dan berbagai kondisi penyakit.
Video animasi:
-
Menarik dan artistik
-
Mudah dimengerti
-
Informatif
-
Efektif meningkatkan pemahaman
Tenaga kesehatan perlu melihat video animasi bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai strategi utama dalam edukasi kesehatan modern.
Karena pada akhirnya, edukasi kesehatan bukan sekadar menyampaikan informasi. Tujuannya adalah perubahan perilaku.
Dan perubahan perilaku lebih mudah terjadi ketika informasi:
Dipahami.
Diterima.
Diingat.
Dan dirasakan relevan.
Penutup: Ketika Ilmu Harus Menyesuaikan Zaman
Ilmu kedokteran terus berkembang. Teknologi terus berubah. Cara manusia belajar pun berubah.
Jika metode edukasi tidak ikut berevolusi, maka pesan kesehatan akan tertinggal.
Video animasi bukan sekadar tren. Ia adalah refleksi dari bagaimana manusia modern memproses informasi.
Dan mungkin, di masa depan, anak-anak akan lebih ingat karakter animasi tentang anemia dibanding teks panjang di buku kesehatan.
Bukan karena mereka malas membaca.
Tetapi karena otak manusia memang mencintai cerita dan gambar.
Dan tugas kita adalah memastikan bahwa cerita itu benar, ilmiah, dan membawa dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Comments