Sejarah Makam Keramat Kyai Kromo Ijoyo di Sleman yang Terdampak Tol Yogya-Solo

Sejarah Makam Keramat Kyai Kromo Ijoyo di Sleman yang Terdampak Tol Yogya-Solo - Autiya Nila Agustina - Pembangunan infrastruktur berskala besar selalu membawa konsekuensi, tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, bahkan spiritual. Proyek Tol Yogya-Solo, yang menjadi salah satu proyek strategis nasional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini menghadapi persoalan unik: keberadaan makam keramat Kyai Kromo Ijoyo di Pedukuhan Ketingan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Sumber Gambar: Kumparan News
Makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang leluhur. Ia adalah bagian dari memori kolektif masyarakat, simbol sejarah, dan ruang spiritual yang dihormati oleh warga sekitar. Rencana pemindahan makam demi kepentingan pembangunan jalan tol memunculkan pertanyaan: bagaimana posisi tradisi, sejarah, dan spiritualitas lokal ketika berhadapan dengan modernisasi?

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang sosok Kyai Kromo Ijoyo, nilai sejarah makamnya, tradisi ziarah yang tumbuh di masyarakat, serta problematika relokasi makam keramat tersebut.

Siapakah Kyai Kromo Ijoyo?

1. Leluhur Pertama Ketingan

Menurut penuturan masyarakat setempat, Kyai Kromo Ijoyo atau kerap dipanggil Mbah Kromo adalah sosok pembabat alas sekaligus penghuni pertama Pedukuhan Ketingan. Dialah yang membuka lahan, menata lingkungan, dan menjadi tokoh adat yang kemudian dihormati sebagai leluhur desa.

2. Kaitan dengan Sejarah Keraton

Lurah Tirtoadi, Mardiharto, menjelaskan bahwa dari cerita turun-temurun, Kyai Kromo hidup pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877–1921). Dalam kisah lisan, disebutkan bahwa Kyai Kromo merupakan bagian dari aliran keraton, bahkan ada yang menghubungkannya dengan para prajurit Keraton Yogyakarta yang kala itu menghadapi masa sulit akibat penjajahan Belanda.
Sebagian cerita rakyat juga menyebut bahwa Kyai Kromo memiliki hubungan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro (1785–1855), meskipun bukti sejarah tertulis sulit dipastikan. Kemungkinan besar, kisah ini berkembang sebagai bagian dari tradisi lisan yang ingin menghubungkan tokoh lokal dengan figur besar perjuangan Jawa.

3. Julukan "Mbah Celeng"

Mbah Kromo memiliki julukan lain, yakni Mbah Celeng. Ada dua versi mengenai asal-usul sebutan ini:
  • Pertama, karena di usia tuanya beliau bungkuk, sehingga jalannya menyerupai babi hutan (celeng dalam bahasa Jawa).
  • Kedua, karena beliau rajin nyelengi atau menabung, sehingga masyarakat menjulukinya demikian.
Uniknya, keturunan Mbah Kromo dikisahkan juga banyak yang bungkuk di usia lanjut, seolah menjadi ciri khas trah beliau.

Makam Kyai Kromo Ijoyo: Dari Situs Leluhur ke Makam Keramat

1. Letak dan Bentuk Fisik

Makam Kyai Kromo Ijoyo terletak di dalam pagar tembok sederhana, dengan gapura bertuliskan “Makam Kyai Kromo Ijoyo”. Lokasinya berada di tepi jalur yang kini sudah dikepung oleh proyek pembangunan Tol Yogya-Solo. Dari luar, makam ini tidak tampak mewah, tetapi aura kesakralannya terasa kuat bagi warga Ketingan.

2. Fungsi Sosial dan Spiritual

Bagi masyarakat sekitar, makam ini tidak dianggap angker. Namun, ia sering menjadi tempat ziarah, tirakat, dan laku spiritual. Banyak orang datang untuk berdoa, mencari berkah, atau sekadar ngalap berkah (memohon restu spiritual).
Karena aktivitas spiritual inilah, makam Kyai Kromo Ijoyo kemudian disebut sebagai makam keramat. “Keramat” di sini bukan berarti mistis menakutkan, melainkan tempat yang memiliki nilai kesucian, kekuatan, dan penghormatan khusus.

3. Hubungan Emosional Masyarakat

Sebagai leluhur desa, Kyai Kromo Ijoyo dihormati bukan hanya karena sejarahnya, tetapi juga karena makamnya menjadi titik pengikat identitas warga Ketingan. Dengan kata lain, makam ini tidak hanya tempat peristirahatan, tetapi juga ruang kolektif yang mempererat rasa kebersamaan.

Tradisi Ziarah dan Makna Kultural

Tradisi ziarah ke makam leluhur merupakan salah satu ciri khas budaya Jawa. Di Ketingan, makam Kyai Kromo Ijoyo menjadi salah satu pusat ziarah, terutama pada hari-hari tertentu seperti:
  • Malam Jumat Kliwon
  • Bulan Suro (Muharram)
  • Hari menjelang bulan Ramadan
Pada waktu-waktu tersebut, banyak warga maupun peziarah dari luar daerah yang datang untuk berdoa, membawa sesaji, dan melakukan laku batin.
Tradisi ini menunjukkan adanya hubungan erat antara masyarakat Jawa dengan leluhur mereka. Makam tidak hanya dipandang sebagai tempat kematian, tetapi juga sumber spiritualitas dan identitas budaya.

Tol Yogya-Solo dan Dampaknya

1. Proyek Strategis Nasional

Tol Yogya-Solo merupakan proyek besar yang bertujuan meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar arus transportasi, dan mendukung perekonomian regional. Proyek ini melewati sejumlah desa di Sleman, termasuk Kalurahan Tirtoadi.

2. Posisi Makam dalam Proyek

Sayangnya, jalur tol yang ditetapkan melintasi area di mana makam Kyai Kromo Ijoyo berada. Hal ini membuat makam tersebut harus direlokasi. Pihak proyek memastikan bahwa semua makam terdampak akan dipindahkan dengan prosedur yang sesuai.

3. Status Tanah Kasultanan

Menurut pihak PT Adhi Karya, lahan tempat makam tersebut berdiri adalah tanah kasultanan. Artinya, secara administratif, tanah itu memang milik Kasultanan Yogyakarta yang dapat digunakan untuk kepentingan pembangunan, termasuk proyek tol.
Meski demikian, aspek legal bukan satu-satunya masalah. Aspek sosial-budaya jauh lebih kompleks karena menyangkut perasaan dan keyakinan warga.

Polemik Relokasi Makam

1. Menunggu Lokasi Baru

Hingga kini, relokasi makam Kyai Kromo Ijoyo masih menunggu kepastian. Pemerintah desa bersama pihak proyek tengah berkoordinasi untuk menentukan lokasi pemindahan. Menurut Lurah Tirtoadi, sebenarnya proses pemindahan makam satu orang tidaklah rumit. Namun, karena ini menyangkut tokoh leluhur yang dihormati, maka keputusan harus diambil dengan sangat hati-hati.

2. Aspek Hukum

Pihak PT Adhi Karya menyebut bahwa relokasi masih menunggu legal opinion dari aparat penegak hukum, termasuk kepastian lahan pengganti dan biaya pemindahan. Proses ini memastikan agar pemindahan dilakukan sesuai hukum dan tidak menimbulkan konflik sosial.

3. Kekhawatiran Warga

Bagi warga Ketingan, relokasi makam bukan sekadar persoalan teknis. Ada ikatan emosional dan spiritual yang membuat mereka merasa kehilangan jika makam dipindahkan. Sebagian khawatir, relokasi akan mengurangi nilai keramat, bahkan bisa memutus hubungan spiritual dengan leluhur.

Relokasi Makam: Antara Pembangunan dan Spiritualitas

Persoalan relokasi makam Kyai Kromo Ijoyo mencerminkan ketegangan antara modernisasi dan tradisi. Di satu sisi, pembangunan tol dianggap penting untuk kemajuan ekonomi. Di sisi lain, makam keramat adalah bagian dari identitas budaya yang tak ternilai harganya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Proses Relokasi yang Adil

Pemindahan harus dilakukan dengan melibatkan masyarakat, ahli waris, dan tokoh agama agar terjaga nilai kesakralannya.

2. Pelestarian Memori

Walaupun makam dipindahkan, kisah sejarah Kyai Kromo Ijoyo perlu tetap diabadikan, misalnya dengan membangun monumen peringatan atau menyertakan informasi sejarah di lokasi baru.

3. Dialog Antar Pihak

Dialog terbuka antara pemerintah, pihak proyek, Kasultanan, dan masyarakat penting untuk menjaga kepercayaan dan menghindari konflik.

Makna Historis dan Budaya Kyai Kromo Ijoyo

Keberadaan makam ini memiliki arti penting:
  • Sebagai simbol pembentukan desa: Kromo Ijoyo adalah tokoh awal Ketingan.
  • Sebagai representasi sejarah kolonial: Kisah keterlibatannya dengan keraton dan Diponegoro menunjukkan kaitan dengan perlawanan Jawa terhadap kolonialisme.
  • Sebagai warisan budaya Jawa: Tradisi ziarah, penghormatan leluhur, dan nilai keramat adalah bagian dari identitas kultural masyarakat Jawa.

Kesimpulan

Makam Kyai Kromo Ijoyo di Sleman bukan sekadar tempat peristirahatan tokoh leluhur. Ia adalah saksi sejarah, pusat spiritual, dan simbol budaya bagi masyarakat Ketingan. Rencana relokasi makam akibat proyek Tol Yogya-Solo menghadirkan dilema: bagaimana menghormati leluhur dan tradisi, sekaligus mendukung pembangunan nasional?
Jawaban dari pertanyaan ini tidaklah sederhana. Ia memerlukan kebijakan yang bijak, sensitif terhadap budaya lokal, serta melibatkan semua pihak terkait. Jika dilakukan dengan penuh penghormatan, relokasi makam bukan berarti menghapus memori leluhur, tetapi justru memperkuat kesadaran sejarah dan spiritual masyarakat.
Pada akhirnya, kisah Kyai Kromo Ijoyo memberi pelajaran berharga: bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan jiwa dan budaya bangsa.

Daftar Pustaka

  • KumparanNEWS. Sejarah Makam Keramat Kyai Kromo Ijoyo di Sleman yang Terdampak Tol Yogya-Solo. 16 Oktober 2023.
  • Wawancara Lurah Tirtoadi, Mardiharto (2023).
  • Carey, Peter. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785–1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012.
  • Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi, 2008.
  • Geertz, Clifford. The Religion of Java. Chicago: University of Chicago Press, 1960.

Comments