Etos Kerja Islami dan Problematika Pengangguran di Indonesia

 

Khutbah Pertama

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu wajah nyata dari persoalan ekonomi umat di Indonesia hari ini adalah pengangguran. Kita melihat dengan mata kepala sendiri: lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan, usia produktif yang kehilangan penghasilan, bahkan kepala keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Ironisnya, kondisi ini terjadi di negeri yang kaya sumber daya, tetapi belum sepenuhnya kaya dalam pengelolaan manusia.

Pengangguran bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga masalah sosial dan spiritual. Ketika seseorang tidak bekerja dalam waktu lama, muncul kegelisahan, hilangnya kepercayaan diri, bahkan tidak jarang berujung pada konflik keluarga dan penyimpangan sosial. Dalam kondisi seperti ini, Islam hadir bukan sekadar memberi penghiburan, tetapi memberi arah dan solusi.

Islam memandang kerja sebagai bagian dari ibadah. Al-Qur’an tidak mengajarkan umatnya untuk pasrah menunggu nasib, tetapi aktif bergerak dan berusaha. Allah berfirman bahwa manusia hanya memperoleh apa yang ia usahakan. Ini adalah prinsip dasar bahwa perubahan ekonomi—termasuk keluar dari pengangguran—harus dimulai dari ikhtiar nyata.

Jamaah yang berbahagia,

Masalah pengangguran di Indonesia tidak selalu berarti tidak ada pekerjaan, tetapi sering kali terjadi karena ketidaksiapan keterampilan, mental kerja yang lemah, atau gengsi terhadap jenis pekerjaan tertentu. Islam tidak mengukur kemuliaan dari jenis profesi, melainkan dari kejujuran, kesungguhan, dan manfaatnya bagi orang lain.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah menggembala kambing, berdagang, dan bekerja keras sejak muda. Ini pesan kuat bahwa bekerja, apa pun bentuknya selama halal, lebih mulia daripada menganggur dan menggantungkan hidup pada orang lain. Etos kerja inilah yang perlu ditanamkan kembali dalam menghadapi tingginya angka pengangguran di negeri ini.

Karena itu, pengangguran bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab umat: membangun mental mandiri, mau belajar keterampilan baru, dan berani memulai usaha meski dari kecil. Usaha kecil yang halal lebih mulia daripada rencana besar yang hanya hidup di angan-angan.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم…


Khutbah Kedua

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Menghadapi pengangguran di Indonesia, Islam mengajarkan dua keseimbangan penting. Pertama, ikhtiar personal: setiap individu dituntut untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan tidak malas berusaha. Kedua, tanggung jawab sosial: umat yang mampu wajib membantu dengan cara memberdayakan, bukan sekadar memberi.

Zakat, infak, dan sedekah seharusnya diarahkan untuk membuka peluang kerja, membantu modal usaha kecil, dan mendukung pendidikan keterampilan. Dengan demikian, masjid bukan hanya tempat berdoa agar diberi rezeki, tetapi juga pusat lahirnya solusi atas pengangguran umat.

Jika pengangguran dibiarkan, ia akan melahirkan kemiskinan. Jika kemiskinan dibiarkan, ia bisa menggerus iman dan akhlak. Karena itu, memperkuat etos kerja dan kemandirian ekonomi umat adalah bagian dari menjaga agama itu sendiri. Iman yang kuat harus berjalan seiring dengan perut yang terisi secara halal dan bermartabat.

Marilah kita memohon kepada Allah agar negeri ini diberi keberkahan rezeki, dibukakan lapangan pekerjaan yang luas, dan umat Islam dijauhkan dari kemalasan serta ketergantungan.

اللهم ارزقنا رزقًا حلالًا واسعًا، ونجنا من الفقر والبطالة، واجعلنا عبادًا نشيطين عاملين، نافعين لأنفسهم ولمجتمعهم.

Penutup khutbah ini sederhana tapi tajam: umat yang ingin bangkit harus bergerak, bukan hanya mengeluh. Dan Islam sejak awal adalah agama gerak, bukan agama rebahan.

Comments