- Get link
- X
- Other Apps
Etos kerja bukan soal di mana seseorang bekerja, tetapi bagaimana ia memaknai pekerjaannya. Desa dan kota memiliki medan yang berbeda, tetapi martabat manusia tetap sama. Islam tidak memuliakan lokasi, melainkan kesungguhan dan kejujuran dalam ikhtiar.
Etos Kerja di Desa: Ketekunan, Kemandirian, dan Keberlanjutan
Di desa, kerja sering kali dekat dengan alam: bertani, beternak, berdagang kecil, atau kerja berbasis komunitas. Etos kerja desa bertumpu pada ketekunan jangka panjang. Petani tidak bisa tergesa-gesa; ia tahu panen tidak bisa dipercepat dengan marah-marah pada padi. Ini pelajaran metafisis yang mahal: kerja adalah dialog dengan waktu.
Kerja di desa juga menumbuhkan kemandirian. Banyak warga desa tidak menunggu lowongan dibuka, tetapi menciptakan pekerjaan dari apa yang ada. Dari tanah, air, keterampilan tangan, dan jaringan sosial. Dalam Islam, ini sejalan dengan prinsip ikhtiar aktif—bukan pasrah yang salah alamat.
Yang khas dari desa adalah etos kebersamaan. Kerja jarang bersifat individual murni. Gotong royong, saling bantu, dan rasa tanggung jawab sosial masih kuat. Martabat manusia dijaga bukan hanya lewat penghasilan, tetapi lewat perasaan “dibutuhkan” oleh komunitas. Di desa, menganggur sering lebih menyakitkan secara sosial daripada secara ekonomi—dan itu tanda bahwa kerja masih dimaknai sebagai bagian dari kemanusiaan.
Etos Kerja di Kota: Disiplin, Adaptasi, dan Profesionalisme
Kota menghadirkan dunia kerja yang cepat, kompetitif, dan penuh tekanan. Jam kerja diukur, target dihitung, dan performa dievaluasi. Etos kerja kota menuntut disiplin dan manajemen diri. Di kota, terlambat lima menit bisa dianggap tidak profesional; di desa, lima menit bisa jadi masih ngobrol dulu. Bukan salah siapa-siapa—hanya beda ekosistem.
Kota juga menuntut kemampuan beradaptasi. Pekerjaan mudah berubah, teknologi cepat usang, dan keterampilan harus terus diperbarui. Etos kerja kota bukan hanya rajin, tetapi mau belajar ulang tanpa gengsi. Gengsi adalah kemewahan yang mahal di kota.
Namun, kota menyimpan jebakan: kerja bisa berubah menjadi mesin tanpa jiwa. Orang dihargai karena produktivitas, bukan kemanusiaannya. Karena itu, etos kerja Islami di kota harus menjaga batas: bekerja sungguh-sungguh tanpa kehilangan nurani, mengejar target tanpa mengorbankan kejujuran, dan sukses tanpa merendahkan yang lain.
Titik Temu Desa dan Kota: Kerja sebagai Ibadah dan Martabat
Baik di desa maupun di kota, etos kerja Islami bertemu pada satu titik: kerja sebagai ibadah dan pemuliaan martabat manusia. Kerja bukan sekadar mencari uang, tetapi menjaga kehormatan diri dan memberi manfaat bagi orang lain.
Desa bisa belajar dari kota tentang manajemen, efisiensi, dan inovasi. Kota bisa belajar dari desa tentang kesabaran, kebersamaan, dan keberlanjutan. Ketika keduanya saling belajar, martabat manusia tidak terjebak pada romantisme desa atau kerasnya kota, tetapi tumbuh dalam keseimbangan.
Islam tidak menuntut umatnya semua menjadi orang kota, juga tidak memaksa semua bertahan di desa. Yang dituntut adalah etos kerja yang jujur, tekun, adaptif, dan bermakna, di mana pun kita berpijak.
Karena pada akhirnya, bukan desa atau kota yang memuliakan manusia—melainkan cara manusia bekerja dengan nilai, iman, dan tanggung jawab. Dan itu berlaku universal, bahkan ketika Wi-Fi hilang atau hujan turun saat panen.
Comments