Martabat Manusia dan Persahabatan Luhur: Membaca Aristoteles dan Aquinas di Zaman Kini

 Fisika boleh menjelaskan bagaimana benda bergerak, ekonomi menjelaskan bagaimana pasar bekerja, tetapi filsafat—dengan caranya yang tenang dan sering dianggap “tidak praktis”—justru bertanya tentang hal yang paling mendasar: apa arti menjadi manusia. Di titik inilah persoalan martabat manusia selalu kembali mengemuka. Martabat bukan sekadar istilah moral yang indah, melainkan inti dari cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Ketika martabat manusia terabaikan, relasi berubah menjadi transaksional, manusia direduksi menjadi alat, dan persahabatan pun kehilangan kedalamannya.

Di tengah zaman yang serba cepat, kompetitif, dan berorientasi hasil, membaca kembali gagasan klasik Aristoteles dan Thomas Aquinas tentang persahabatan menjadi sangat relevan. Keduanya hidup dalam konteks sejarah yang jauh berbeda dengan dunia digital hari ini. Namun justru karena itu, pemikiran mereka menawarkan jarak kritis yang menyegarkan. Aristoteles dan Aquinas tidak berbicara tentang persahabatan sebagai sekadar “punya teman”, tetapi sebagai relasi luhur yang berkaitan langsung dengan kebaikan, kebahagiaan, cinta kasih, dan martabat manusia.

Artikel ini mencoba membaca ulang gagasan Aristoteles dan Aquinas tentang persahabatan luhur, lalu menempatkannya dalam konteks kehidupan manusia modern. Bukan sebagai nostalgia intelektual, melainkan sebagai sumber refleksi untuk menjawab krisis relasi dan krisis martabat yang kita alami hari ini.

Martabat Manusia: Lebih dari Nilai Sosial

Martabat manusia sering disalahpahami sebagai sesuatu yang datang dari luar: jabatan, prestasi, kekayaan, atau pengakuan sosial. Padahal, dalam tradisi filsafat klasik, martabat melekat pada manusia itu sendiri. Ia bukan hadiah, melainkan hakikat. Manusia bermartabat bukan karena ia berguna, tetapi karena ia manusia.

Aristoteles memandang manusia sebagai makhluk rasional dan bermoral. Manusia tidak hanya hidup untuk bertahan, tetapi untuk hidup baik. Hidup baik—eudaimonia—bukan sekadar kesenangan, melainkan kehidupan yang dijalani sesuai dengan keutamaan. Dalam kerangka ini, martabat manusia terletak pada kemampuannya untuk memilih kebaikan dan membangun relasi yang bermakna.

Aquinas melangkah lebih jauh dengan memberikan dasar teologis. Bagi Aquinas, martabat manusia bersumber dari fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Martabat ini bersifat universal dan tidak bisa dicabut, bahkan oleh dosa, kegagalan, atau keterbatasan. Dengan demikian, menghormati martabat manusia berarti menghormati kehendak Sang Pencipta.

Di zaman kini, pemahaman seperti ini sering tergeser oleh logika utilitarian. Manusia dihargai sejauh ia produktif dan relevan. Ketika produktivitas menurun, martabat pun seolah ikut runtuh. Inilah konteks krisis yang membuat gagasan persahabatan luhur menjadi penting sebagai ruang pemulihan martabat manusia.

Aristoteles dan Konsep Persahabatan Luhur

Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menempatkan persahabatan (philia) sebagai unsur esensial dalam kehidupan yang baik. Ia bahkan menyatakan bahwa persahabatan lebih penting daripada keadilan dalam banyak hal, karena persahabatan membuat keadilan menjadi kurang diperlukan. Pernyataan ini terdengar berani, tetapi masuk akal jika kita memahami maksudnya.

Aristoteles membagi persahabatan menjadi tiga jenis. Pertama, persahabatan karena kegunaan. Orang bersahabat karena saling membutuhkan. Kedua, persahabatan karena kesenangan. Orang bersahabat karena merasa nyaman dan senang satu sama lain. Kedua jenis ini sah, tetapi rapuh. Ketika manfaat atau kesenangan hilang, persahabatan pun memudar.

Jenis ketiga adalah persahabatan karena kebaikan. Inilah persahabatan luhur. Dalam relasi ini, dua orang saling menghendaki kebaikan satu sama lain karena mereka menghargai karakter dan keutamaan masing-masing. Persahabatan ini tidak bergantung pada situasi eksternal, melainkan pada kualitas moral.

Persahabatan luhur, menurut Aristoteles, adalah relasi antara dua pribadi yang sama-sama berusaha menjadi baik. Sahabat bukan hanya teman berbagi cerita, tetapi rekan dalam perjalanan etis. Mereka saling menegur, menguatkan, dan mendorong satu sama lain menuju kehidupan yang lebih bermakna. Dalam relasi seperti ini, martabat manusia tidak hanya diakui, tetapi juga dikembangkan.

Aquinas dan Persahabatan dalam Terang Cinta Kasih

Thomas Aquinas menerima kerangka Aristoteles, tetapi menafsirkannya dalam terang iman Kristiani. Ia mengaitkan persahabatan luhur dengan konsep caritas, yaitu cinta kasih ilahi. Bagi Aquinas, persahabatan sejati bukan hanya relasi horizontal antar manusia, tetapi juga partisipasi dalam cinta Allah.

Aquinas memandang persahabatan sebagai relasi timbal balik yang berakar pada kehendak baik. Cinta kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan rasional untuk mengusahakan kebaikan orang lain. Dalam persahabatan yang didasarkan pada caritas, manusia belajar mencintai sesamanya bukan karena ia menyenangkan atau berguna, tetapi karena ia berharga di hadapan Tuhan.

Di sini, martabat manusia mendapatkan dimensi yang lebih dalam. Setiap manusia adalah calon sahabat, bukan karena kesamaan minat atau latar belakang, tetapi karena ia adalah makhluk ciptaan. Persahabatan tidak lagi eksklusif dalam arti sempit, melainkan terbuka pada semangat solidaritas dan kepedulian universal.

Aquinas juga menekankan bahwa persahabatan sejati menuntut pengorbanan. Cinta kasih selalu mengandung risiko: risiko disalahpahami, dikhianati, atau tidak dibalas. Namun justru di situlah martabat manusia diuji dan dimurnikan. Mencintai tanpa jaminan adalah ekspresi kebebasan manusia yang paling luhur.

Persahabatan Luhur di Tengah Dunia Digital

Membaca Aristoteles dan Aquinas di zaman kini tidak bisa dilepaskan dari realitas dunia digital. Media sosial memperluas jaringan pertemanan, tetapi sering kali mengerdilkan makna persahabatan. Relasi dibangun melalui “like”, “follow”, dan komentar singkat. Kehadiran fisik dan kedalaman dialog perlahan tergeser.

Dalam konteks ini, persahabatan luhur menjadi semakin langka, tetapi sekaligus semakin dibutuhkan. Dunia digital cenderung menampilkan versi terbaik diri manusia, sementara persahabatan sejati justru tumbuh dari keberanian menunjukkan kerentanan. Aristoteles dan Aquinas mengingatkan bahwa relasi yang memulihkan martabat manusia bukan relasi yang sempurna di permukaan, melainkan relasi yang jujur di kedalaman.

Persahabatan luhur menuntut waktu, kesabaran, dan komitmen—tiga hal yang sering terasa mahal di zaman serba instan. Namun justru karena mahal, nilainya tidak tergantikan. Di tengah budaya “scroll cepat”, persahabatan mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan benar-benar hadir.

Persahabatan sebagai Ruang Pemulihan Martabat

Salah satu kontribusi terbesar persahabatan luhur adalah kemampuannya memulihkan martabat manusia yang terluka. Banyak orang hidup dengan rasa tidak cukup, tidak layak, atau tidak berarti. Luka-luka ini sering tidak terlihat, tetapi sangat nyata.

Dalam persahabatan sejati, seseorang dipandang bukan sebagai proyek yang harus diperbaiki, tetapi sebagai pribadi yang layak diterima. Sahabat tidak menutup mata terhadap kekurangan, tetapi juga tidak mereduksi manusia menjadi kesalahannya. Sikap inilah yang memulihkan martabat secara perlahan namun mendalam.

Aristoteles menekankan bahwa sahabat adalah “diri yang lain”. Artinya, mencintai sahabat berarti mencintai kebaikan itu sendiri. Aquinas menambahkan bahwa dalam cinta kasih, kita belajar melihat sesama dengan mata Allah. Perspektif ini mengubah cara kita memperlakukan orang lain, dari penilaian menjadi penerimaan, dari tuntutan menjadi pendampingan.

Dimensi Sosial dan Kemanusiaan Universal

Persahabatan luhur tidak berhenti pada lingkaran pribadi. Ia memiliki implikasi sosial yang luas. Ketika manusia terbiasa melihat sesama sebagai sahabat potensial, bukan lawan atau ancaman, cara pandang terhadap masyarakat pun berubah.

Dalam konteks konflik sosial, perbedaan pandangan sering kali memicu polarisasi. Aristoteles dan Aquinas menawarkan pendekatan yang berbeda: mendahulukan martabat manusia di atas kemenangan argumen. Persahabatan tidak menghapus perbedaan, tetapi menyediakan ruang aman untuk dialog yang manusiawi.

Persahabatan lintas budaya, agama, dan latar belakang menjadi praktik konkret dari filsafat kemanusiaan. Ia menunjukkan bahwa hidup bersama tidak harus berarti menyeragamkan, melainkan saling memahami. Di sinilah gagasan klasik menemukan relevansi kontemporernya.

Persahabatan sebagai Kritik terhadap Budaya Utilitarian

Zaman kini cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan kegunaan. Logika ini merembes ke dalam relasi manusia. Orang dipertahankan selama bermanfaat, ditinggalkan ketika tidak lagi relevan. Persahabatan luhur, sebagaimana dipahami Aristoteles dan Aquinas, berdiri sebagai kritik senyap terhadap cara berpikir ini.

Dalam persahabatan sejati, manusia dicintai bukan karena apa yang ia hasilkan, tetapi karena siapa ia adanya. Pesan ini sederhana, tetapi subversif. Ia menantang sistem nilai yang menempatkan produktivitas di atas kemanusiaan.

Dengan menjadikan persahabatan sebagai nilai hidup, manusia menegaskan bahwa tidak semua yang berharga bisa diukur dengan angka. Martabat manusia, cinta kasih, dan kesetiaan adalah nilai yang hanya bisa dialami, bukan dihitung.

Relevansi Etis bagi Kehidupan Sehari-hari

Membaca Aristoteles dan Aquinas bukan sekadar latihan intelektual. Gagasan mereka menuntut penerjemahan dalam kehidupan sehari-hari. Persahabatan luhur dimulai dari sikap sederhana: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, hadir di saat sulit, dan berani berkata jujur dengan penuh kasih.

Di dunia kerja, persahabatan luhur mengubah rekan menjadi sesama manusia, bukan sekadar alat produksi. Dalam keluarga, ia memperdalam relasi di luar kewajiban formal. Dalam masyarakat, ia menumbuhkan solidaritas yang melampaui kepentingan sempit.

Semua ini bermuara pada satu hal: pemulihan martabat manusia melalui relasi yang manusiawi.

Penutup: Membaca yang Lama untuk Menyembuhkan yang Kini

Aristoteles dan Aquinas hidup di dunia yang sangat berbeda dengan dunia kita. Namun justru karena jarak itulah pemikiran mereka menjadi cermin yang jujur bagi zaman kini. Mereka mengingatkan bahwa persahabatan bukan aksesori hidup, melainkan inti dari kehidupan yang bermartabat.

Di tengah krisis relasi dan dehumanisasi, persahabatan luhur menawarkan jalan alternatif. Ia tidak berisik, tidak populer, dan sering menuntut pengorbanan. Namun di sanalah martabat manusia dijaga dan dipulihkan.

Membaca Aristoteles dan Aquinas hari ini bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan melangkah lebih dalam ke hakikat manusia. Di dunia yang sibuk membangun citra, persahabatan luhur mengajarkan kita kembali pada yang paling mendasar: menjadi manusia bagi sesama manusia.

Comments