Khutbah Pertama
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita hidup di zaman yang disebut sebagai dunia kerja modern. Dunia yang ditandai oleh digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan persaingan global. Di satu sisi, peluang terbuka luas lintas negara. Di sisi lain, banyak pekerjaan lama hilang, tergantikan mesin dan sistem. Inilah realitas yang sedang dihadapi Indonesia dan dunia internasional.
Di Indonesia, pengangguran tidak lagi hanya soal tidak adanya lapangan kerja, tetapi juga ketidaksesuaian antara kemampuan manusia dan tuntutan dunia kerja modern. Banyak lulusan pendidikan yang secara ijazah siap, tetapi secara keterampilan belum cukup adaptif. Sementara itu, di tingkat global, perusahaan mencari tenaga kerja yang fleksibel, kreatif, dan mampu belajar cepat—bukan sekadar menghafal.
Islam memandang perubahan zaman bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ujian tanggung jawab manusia. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk berakal, mampu belajar, dan berkembang. Maka, berdiam diri di tengah perubahan adalah bentuk kelalaian terhadap amanah akal yang Allah berikan.
Jamaah yang berbahagia,
Dunia kerja modern sering kali menekan manusia menjadi sekadar angka produktivitas. Target, deadline, efisiensi, bahkan eksploitasi tenaga kerja menjadi fenomena global. Di sinilah Islam hadir menjaga martabat manusia dalam kerja. Bekerja bukan hanya soal menghasilkan uang, tetapi menjaga kehormatan diri, keluarga, dan kontribusi sosial.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dalam konteks hari ini, maknanya bukan sekadar memberi sedekah, tetapi menjadi manusia yang berdaya di tengah sistem global, tidak mudah tergilas, dan tidak kehilangan nilai kemanusiaan.
Karena itu, umat Islam dituntut memiliki dua bekal utama: etos kerja dan etos belajar. Dunia kerja modern tidak ramah pada kemalasan, tetapi Islam sejak awal juga tidak memuliakan kemalasan. Orang beriman adalah orang yang terus memperbaiki diri, meningkatkan keterampilan, dan tidak berhenti belajar sepanjang hayat.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم…
Khutbah Kedua
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Menghadapi dunia kerja modern, baik di Indonesia maupun internasional, Islam mengajarkan keseimbangan yang penting. Kita diperintahkan untuk adaptif tanpa kehilangan nilai, kompetitif tanpa menghalalkan segala cara, dan produktif tanpa mengorbankan martabat.
Pengangguran di era modern sering kali melahirkan keputusasaan, sementara tekanan kerja global melahirkan kelelahan mental. Keduanya sama-sama berbahaya jika tidak disertai iman dan solidaritas sosial. Karena itu, umat Islam perlu membangun budaya kerja yang sehat: saling menguatkan, berbagi peluang, dan memberdayakan, bukan saling menjatuhkan.
Masjid dan komunitas umat harus menjadi ruang membangun kesadaran baru: bahwa bekerja di era digital, wirausaha, kerja jarak jauh, maupun kerja lintas negara adalah bagian dari ikhtiar halal selama dijalani dengan kejujuran dan tanggung jawab. Dunia kerja berubah, tetapi nilai Islam tidak pernah usang.
Marilah kita berdoa agar Allah membimbing umat Islam menghadapi tantangan dunia kerja modern dengan iman, ilmu, dan akhlak. Agar kita tidak menjadi korban perubahan, tetapi menjadi pelaku yang bermartabat di dalamnya.
اللهم بارك لنا في أعمالنا، وافتح لنا أبواب الرزق الحلال، واحفظ كرامتنا في عالم العمل المتغير، واجعلنا عبادًا أقوياء نافعين.
Penutup khutbah ini mengingatkan kita semua: zaman boleh berubah, sistem boleh berganti, tetapi martabat manusia harus tetap dijaga. Dan Islam hadir untuk memastikan manusia tidak hilang di tengah mesin, pasar, dan persaingan global.
Comments