Sejarah Jaken di Kabupaten Pati: Dari Kawedanan, Kadipaten Paranggarudo, hingga Puskesmas Modern


Sejarah Jaken di Kabupaten Pati: Dari Kawedanan, Kadipaten Paranggarudo, hingga Puskesmas Modern

Pendahuluan

Jaken adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Meski saat ini Jaken dikenal sebagai wilayah administratif biasa, sejarahnya menyimpan jejak panjang dari masa kerajaan, kolonial, hingga modern. Jika dilihat dari beberapa aspek, sejarah Jaken tidak dapat digali dari satu sumber tunggal, melainkan harus dikaji melalui catatan administrasi kolonial, naskah babad, hingga tradisi lisan masyarakat.

Dari sisi administrasi, Jaken merupakan bagian dari Kawedanan Jakenan pada masa kolonial. Dari sisi sejarah lokal, terdapat catatan dalam Serat Babad Pathi mengenai Kadipaten Paranggarudo pada abad ke-13, yang diyakini mencakup wilayah Jaken sekarang. Dari sisi fasilitas umum modern, Jaken mencatat sejarah penting dengan berdirinya Puskesmas Jaken tahun 1974, yang awalnya hanyalah Balai Pengobatan.

Artikel ini akan mengurai secara mendalam perjalanan sejarah Jaken melalui tiga sudut pandang tersebut, sekaligus menampilkan warisan budaya lokal yang masih lestari hingga kini.


---

Aspek Administrasi dan Geografis Jaken

Jaken Sebagai Kecamatan

Secara administratif, Jaken adalah sebuah kecamatan di bagian timur dan tenggara Kabupaten Pati. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Rembang di sebelah timur, sementara di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Jakenan.

Posisi geografis Jaken menjadikannya wilayah strategis karena menjadi penghubung antara Kabupaten Pati dengan wilayah pesisir utara Rembang. Secara topografi, Jaken didominasi oleh lahan pertanian, terutama sawah tadah hujan, dengan sebagian penduduk menggantungkan hidup dari bercocok tanam padi, jagung, dan palawija.

Bagian dari Kawedanan Jakenan

Pada masa kolonial Belanda, Jaken bukanlah kecamatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari Kawedanan Jakenan. Sistem kawedanan kala itu merupakan tingkatan administratif di bawah kabupaten. Kawedanan Jakenan membawahi beberapa distrik atau kecamatan, termasuk Jaken, Jakenan, Pucakwangi, dan Winong.

Kawedanan Jakenan berpusat di Jakenan, sementara Jaken berperan sebagai wilayah penyangga yang menghubungkan jalur Pati-Rembang. Keberadaan kawedanan ini penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan kolonial sekaligus mempermudah pengawasan pajak dan hasil bumi.

Perubahan Status Wilayah

Setelah Indonesia merdeka, struktur kawedanan secara perlahan dihapus. Jaken kemudian berdiri sebagai kecamatan penuh dengan pusat pemerintahan sendiri. Meski demikian, jejak historisnya sebagai bagian dari Kawedanan Jakenan masih terasa dalam budaya administratif masyarakatnya.


---

Aspek Sejarah Lokal Jaken

Kadipaten Paranggarudo

Menurut catatan dalam Serat Babad Pathi, pada abad ke-13 terdapat sebuah kadipaten bernama Paranggarudo. Kadipaten ini berada di bawah pengaruh kerajaan besar seperti Majapahit dan kemudian Demak. Banyak sejarawan berpendapat bahwa wilayah Kadipaten Paranggarudo meliputi daerah yang kini menjadi Jaken dan sekitarnya.

Dipimpin oleh Adipati Yudhapati, Kadipaten Paranggarudo menjadi salah satu pusat penting di wilayah selatan pesisir Jawa. Keberadaannya menandai bahwa daerah Jaken sudah memiliki struktur pemerintahan lokal jauh sebelum masa kolonial Belanda.

Tokoh Lokal: Demang Gendolo

Dalam cerita rakyat yang berkembang di Desa Trikoyo, Jaken, dikenal nama Demang Gendolo. Ia disebut sebagai bawahan Adipati Yudhapati pada masa Kadipaten Paranggarudo. Nama “Gendolo” diyakini masih hidup hingga kini dalam penyebutan lokal “Ndolo” yang mengacu pada Desa Trikoyo.

Demang Gendolo digambarkan sebagai tokoh yang arif sekaligus berwibawa. Ia dipercaya turut menjaga ketertiban wilayah Paranggarudo, khususnya di bagian timur yang berbatasan dengan Rembang. Meski tidak semua kisahnya dapat diverifikasi secara ilmiah, cerita tentang Demang Gendolo telah menjadi bagian dari identitas sejarah Jaken.

Budaya Tradisional di Jaken

Hingga kini, Jaken tetap melestarikan sejumlah tradisi budaya lokal yang berakar dari masa lalu.

1. Tradisi Ngarak
Di beberapa desa seperti Trikoyo dan Kebonturi, masih dilakukan tradisi "ngarak" atau arak-arakan sesaji di sekitar punden atau makam leluhur. Tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan Sura atau menjelang panen.


2. Seni Ketoprak
Grup-grup ketoprak rakyat masih aktif di wilayah Jaken. Pertunjukan ketoprak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana pewarisan nilai sejarah dan budaya Jawa.


3. Haul dan Peringatan Tokoh Lokal
Tokoh-tokoh yang dianggap leluhur, seperti Demang Gendolo, diperingati melalui doa bersama atau kenduri desa.



Tradisi-tradisi ini menegaskan bahwa meski telah mengalami modernisasi, masyarakat Jaken tetap menjaga hubungan spiritual dengan leluhur dan sejarah lokalnya.


---

Aspek Fasilitas Umum

Puskesmas Jaken: Dari Balai Pengobatan ke Layanan Kesehatan Modern

Salah satu aspek penting dalam sejarah Jaken adalah keberadaan Puskesmas Jaken. Fasilitas ini pertama kali didirikan pada tahun 1974 dalam bentuk Balai Pengobatan. Pada masa itu, akses kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan masih sangat terbatas. Warga Jaken yang sakit biasanya harus menempuh perjalanan jauh ke kota Pati atau Rembang.

Balai Pengobatan Jaken hadir sebagai solusi awal untuk melayani kebutuhan dasar kesehatan masyarakat. Tenaga medisnya terbatas, tetapi perannya besar dalam menolong warga miskin yang tidak mampu berobat ke kota.

Pada tahun 1983, Balai Pengobatan ini resmi ditetapkan sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Jaken. Dengan status baru ini, layanan yang diberikan menjadi lebih luas:

Rawat jalan untuk pasien umum.

Program imunisasi bagi anak-anak.

Pelayanan ibu dan anak, termasuk persalinan sederhana.

Kampanye kesehatan masyarakat, seperti penyuluhan gizi dan kebersihan lingkungan.


Hingga kini, Puskesmas Jaken masih menjadi pusat layanan kesehatan utama bagi masyarakat, sekaligus bukti bahwa pembangunan di bidang kesehatan memiliki akar panjang di wilayah ini.


---

Analisis Perjalanan Sejarah Jaken

Jika ditelusuri, perjalanan sejarah Jaken dapat dibagi menjadi tiga fase penting:

1. Fase Kerajaan (Abad ke-13 – 16)

Jaken menjadi bagian dari Kadipaten Paranggarudo di bawah kekuasaan Majapahit dan kemudian Demak.

Muncul tokoh lokal seperti Adipati Yudhapati dan Demang Gendolo.



2. Fase Kolonial (Abad ke-17 – 20)

Jaken masuk ke dalam struktur Kawedanan Jakenan yang berpusat di Jakenan.

Peranannya lebih bersifat administratif di bawah kekuasaan Belanda.



3. Fase Modern (1945 – sekarang)

Setelah Indonesia merdeka, Jaken menjadi kecamatan penuh di Kabupaten Pati.

Pembangunan fasilitas umum, seperti sekolah dan puskesmas, menunjukkan pergeseran dari pusat administrasi kolonial menjadi pusat pelayanan masyarakat.





---

Penutup

Sejarah Jaken adalah sejarah panjang sebuah wilayah yang mencakup berbagai aspek: administrasi, budaya, dan pelayanan masyarakat. Dari masa Kadipaten Paranggarudo dengan tokoh-tokoh seperti Adipati Yudhapati dan Demang Gendolo, hingga masa kolonial di mana Jaken menjadi bagian dari Kawedanan Jakenan, dan akhirnya pada masa modern dengan hadirnya Puskesmas Jaken tahun 1974, semuanya menandakan bahwa Jaken bukan sekadar kecamatan biasa, melainkan wilayah dengan identitas historis yang kuat.

Kini, meski zaman telah berubah, masyarakat Jaken masih melestarikan tradisi leluhur dan terus mengembangkan diri dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Hal ini membuktikan bahwa Jaken memiliki daya hidup yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman.


---

Daftar Referensi

1. Pemerintah Kabupaten Pati. Arsip Kawedanan Jakenan dan Administrasi Kabupaten Pati. Pati: Arsip Daerah, 1980.


2. Dinas Kesehatan Kabupaten Pati. Sejarah Puskesmas di Kabupaten Pati. Pati: Dinkes, 2000.


3. Serat Babad Pathi. Koleksi Naskah Jawa, Perpustakaan Sonobudoyo Yogyakarta.


4. Sumarsono, Bambang. Administrasi Pemerintahan Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.


5. Wawancara dengan Supriyanto, sesepuh Desa Trikoyo, Jaken, 2022.


6. Dinas Kebudayaan Jawa Tengah. Warisan Budaya dan Tradisi Masyarakat Pati Selatan. Semarang: 2010.

Comments