Sejarah dan Asal Usul Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati
Pendahuluan
Setiap desa di Indonesia memiliki kisah sejarahnya sendiri yang seringkali diwariskan lewat cerita tutur, babad, maupun arsip kolonial. Salah satu desa dengan sejarah panjang adalah Desa Ronggo, yang kini berada di Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Sejarah Ronggo tidak hanya tercatat dalam dokumen, tetapi juga dalam legenda dan babad yang hidup di kalangan masyarakatnya. Cerita tentang Citro Sumo dan Citro Langkir, dua tokoh dari Mataram yang dikisahkan sampai ke Ronggo, masih menjadi bagian penting dari identitas desa ini.
Selain itu, Ronggo pernah menjadi kademangan pada masa kekuasaan Jepara, mengalami perubahan administratif di masa kolonial Belanda dan Jepang, hingga akhirnya terbagi menjadi dua desa modern: Desa Ronggo (Pati) dan Desa Ronggomulyo (Rembang).
Artikel ini akan mengulas panjang lebar mengenai asal-usul Desa Ronggo, perubahan sosial-ekonomi, hingga kehidupan masyarakatnya di era modern.
---
Asal Usul Desa Ronggo
Kisah Citro Sumo dan Citro Langkir
Menurut cerita tutur masyarakat, asal-usul Desa Ronggo berkaitan dengan perjalanan dua pemuda kakak-beradik dari Mataram, yaitu Citro Sumo dan Citro Langkir.
Mereka mendapat tugas dari ayahnya untuk mencari keberadaan orang-orang Portugis. Dalam perjalanan, keduanya berhenti di sebuah tanah lapang becek dan tandus. Di sana, Citro Langkir membuat periuk tanah liat untuk menanak nasi, sementara Citro Sumo memilih bersemedi selama 21 hari.
Ketegangan muncul ketika Citro Sumo menuduh adiknya tidak serius bersemedi, hingga menendang periuk buatan Citro Langkir. Namun, Citro Langkir berhasil menyatukan kembali periuk yang pecah hanya dengan air rebusan nasi. Hal ini membuat Citro Sumo merasa kalah sakti, lalu ia melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah sendang yang dipenuhi pohon nanas.
Sendang itu kemudian dikenal sebagai Sendang Kalinanas, yang masih menjadi bagian penting dalam kisah sejarah lokal Ronggo.
Pertemuan dengan Kek Onggo Joyo
Di sendang itulah Citro Sumo bertemu Kek Onggo Joyo, seorang demang Ronggo. Awalnya keduanya sempat bertarung karena salah paham, tetapi akhirnya mereka bersaudara. Citro Sumo tinggal di kademangan Ronggo untuk beberapa waktu.
Kisah ini menandai masuknya Citro Sumo dalam sejarah Ronggo. Namun pada akhirnya, Citro Sumo meninggalkan Ronggo untuk melanjutkan perjalanan. Ia meninggal (atau moksa) di wilayah Banggi, dan masyarakat mempercayai bahwa rohnya menjadi penguasa di Jepara.
Citro Langkir di Ronggo
Adik Citro Sumo, yaitu Citro Langkir, akhirnya menetap di Ronggo. Ia bahkan dinikahkan dengan putri Kek Onggo Joyo, Temon Murtiasi, dan diangkat menjadi Jagabaya (kepala keamanan). Dari sinilah, Ronggo semakin berkembang sebagai sebuah kademangan yang dipimpin secara turun-temurun.
---
Masa Kademangan Ronggo
Pada masa awal, Ronggo berstatus sebagai kademangan yang berada di bawah Kadipaten Jepara. Sebagai kademangan, Ronggo dipimpin seorang Demang, dengan wilayah yang cukup luas meliputi beberapa dukuh.
Menurut Babad Delamong, Ronggo pada masa itu sudah menjadi pemukiman masyarakat agraris yang hidup dari hasil hutan dan pertanian. Leluhur masyarakat Ronggo dikenal sebagai orang-orang Kalang, yaitu kelompok masyarakat yang hidup di pinggiran hutan, bekerja sebagai penebang, pembuat rumah, sekaligus petani.
Kekuasaan di Ronggo diwariskan melalui garis laki-laki, biasanya dari ayah kepada anak atau menantu laki-lakinya, sebagaimana terjadi pada pergantian dari Kek Onggo Joyo ke Citro Langkir.
---
Periode Kolonial: Ronggo dalam Administrasi Juwana
Pada abad ke-19, Ronggo menjadi bagian dari Kabupaten Juwana. Saat itu, Juwana sendiri mengalami perubahan status beberapa kali akibat kebijakan kolonial Belanda.
Ronggo terbagi menjadi beberapa dukuh, yaitu:
Dukuh Goghek
Dukuh Mulyo
Dukuh Kesumo
Ketiga dukuh tersebut dipisahkan oleh aliran Sungai Randu Gunting, yang sekaligus menjadi batas antara Juwana dan Rembang.
Pada tahun 1944, saat Jepang membubarkan Kabupaten Juwana dan meleburkannya ke dalam Pati Syuu, Ronggo juga mengalami perubahan besar. Ronggo kemudian terbagi menjadi dua desa:
1. Ronggomulyo (Rembang) – mencakup Goghek dan Mulyo.
2. Ronggo (Pati) – mencakup Kesumo.
---
Kondisi Geografis Desa Ronggo
Desa Ronggo berada di kawasan Pegunungan Kendeng, yang terkenal dengan perbukitan kapur dan hutan jatinya. Kondisi tanahnya sebagian berupa batu padas yang sulit diolah, sehingga hanya bisa dijadikan tegalan (lahan kering).
Namun di bagian timur dan utara desa, tanah berupa endapan lumpur sungai, yang lebih subur dan bisa ditanami padi sawah tadah hujan.
Curah hujan di Ronggo tergolong rendah. Tahun 1987, misalnya, Ronggo mengalami musim kemarau panjang dengan curah hujan hanya 1.906 mm selama 100 hari hujan. Suhu udara saat itu mencapai 33°C, menyebabkan kekeringan di hampir seluruh wilayah desa.
---
Kehidupan Sosial dan Ekonomi
1. Kehidupan dari Hutan Jati
Mayoritas masyarakat Ronggo menggantungkan hidup pada hutan jati. Sebagian bekerja sebagai penebang kayu (belandong), pengrajin, atau pedagang kayu.
Pada masa kolonial, hutan-hutan jati dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda dan tidak bisa diakses bebas oleh rakyat. Namun masyarakat Ronggo tetap melakukan pengambilan kayu, baik secara sembunyi-sembunyi maupun lewat permohonan khusus.
Setelah peristiwa penjarahan hutan jati 1998, jual beli kayu dilakukan secara terbuka, dan lahirlah Pasar Kayu Ronggo, yang masih dikenal hingga kini.
2. Pertanian
Selain dari hutan, masyarakat Ronggo juga bertani di lahan kering dan sawah tadah hujan. Komoditas utama adalah padi, jagung, kacang, dan ketela.
3. Industri Mebel
Sejak 1980-an, banyak pemuda Ronggo merantau ke Jepara untuk belajar seni ukir dan perdagangan mebel. Setelah kembali, mereka membuka usaha kecil di Ronggo. Akibatnya, Ronggo berkembang menjadi salah satu sentra industri mebel di Kecamatan Jaken.
Pada tahun 1990-an, tercatat ada beberapa usaha permebelan serta industri kecil seperti pembuatan kerupuk.
---
Perkembangan Pendidikan dan Kesehatan
Pendidikan
Sejak 1950-an, masyarakat Ronggo mulai menikmati pendidikan formal. Pada 1956, dibangun Sekolah Rakyat (SR) pertama di Ronggo.
Tahun 1976, pemerintah membangun SD Inpres di Ronggo, yang pada 1992 berubah menjadi SD Negeri 1 Ronggo.
Selain itu, terdapat TK Ngudi Rahayu sebagai pendidikan anak usia dini.
Namun untuk melanjutkan ke SMP, anak-anak Ronggo harus pergi ke desa tetangga seperti Tegalarum atau Sidoluhur. SMA hanya bisa ditempuh di kota Pati.
Kesehatan
Masyarakat Ronggo memanfaatkan Puskesmas Jaken untuk layanan kesehatan. Selain itu, terdapat bidan desa dan posyandu untuk ibu-anak.
---
Kehidupan Politik dan Pemerintahan Desa
Pada masa kolonial, Ronggo dipimpin oleh seorang Petinggi atau kepala desa. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Ngaripan, tetapi ia diberhentikan tahun 1954 karena dianggap gagal menjaga keamanan desa.
Penggantinya, Supardi, juga tidak bertahan lama karena maraknya pencurian dan perampokan. Akhirnya, pada 1955, terpilihlah Pande Dandang, yang memimpin hingga 1982. Di bawah kepemimpinannya, Ronggo mengalami kemajuan signifikan, termasuk pembangunan sekolah dan sarana desa.
---
Tradisi dan Budaya Lokal
Masyarakat Ronggo dikenal masih memegang erat tradisi Jawa, antara lain:
Bersih Desa (Nyadran) → dilakukan setahun sekali dengan doa bersama dan kenduri.
Arisan dan Pengajian → kegiatan rutin ibu-ibu.
Gotong Royong → membersihkan desa, memperbaiki jalan, atau membantu hajatan.
Kesenian Tradisional → ketoprak, rebana, dan wayang kulit masih sering dipentaskan.
---
Kategori Desa dan Kehidupan Sosial
Desa Ronggo termasuk desa pedesaan, dengan ciri-ciri:
Hidup sederhana, tidak berlebihan.
Hubungan antarwarga sangat erat.
Masih menjaga adat istiadat Jawa.
Sopan santun dalam berpakaian dan perilaku.
Masyarakat yang ramah dan saling menghormati.
Remaja di Ronggo mengisi waktu dengan gotong royong, membantu orang tua, atau berkumpul dengan teman. Sementara itu, ibu-ibu aktif dalam arisan dan membuat kerajinan tangan, sedangkan bapak-bapak fokus bekerja di ladang atau hutan.
---
Penutup
Sejarah Desa Ronggo adalah potret perjalanan panjang sebuah komunitas desa di Jawa yang dipengaruhi oleh legenda, kolonialisme, hingga modernisasi.
Dari kisah Citro Sumo dan Citro Langkir, masa kademangan, perubahan di masa kolonial, hingga menjadi desa agraris dan pusat industri mebel, Ronggo selalu beradaptasi dengan zamannya.
Kini, Ronggo tetap menjaga identitas sebagai desa pedesaan yang sederhana, ramah, dan penuh gotong royong, sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah panjang Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati.
Comments