![]() |
| Sumber Gambar: Sindo News |
Ketika membicarakan perjuangan kaum Muslimin di zaman Rasulullah SAW, sering kali yang tergambar adalah sosok-sosok sahabat laki-laki yang gagah di medan perang. Namun, sejarah mencatat bahwa para muslimah juga memiliki kontribusi besar, baik secara langsung di medan tempur maupun melalui peran strategis di belakang barisan. Para wanita tangguh ini bukan hanya sekadar pendukung, tetapi juga bagian dari kekuatan ummat Islam saat itu.
Nusaibah binti Ka'ab: Pejuang Wanita di Medan Uhud
Salah satu sosok paling terkenal adalah Nusaibah binti Ka’ab al-Maziniyyah. Dalam Perang Uhud, ia tidak hanya membawa kantung air dan merawat yang terluka, tetapi juga mengangkat senjata ketika barisan kaum Muslimin kocar-kacir dan Rasulullah SAW berada dalam kondisi genting.
Diriwayatkan bahwa Nusaibah berdiri kokoh di depan Rasulullah SAW dengan pedang di tangan dan tubuh penuh luka. Ia berperang dengan keberanian luar biasa, bahkan Rasulullah bersabda bahwa di medan Uhud, "setiap kali aku menoleh ke kanan atau ke kiri, aku melihat Nusaibah melindungiku".
Ummu Ammarah: Simbol Keteguhan Hati
Nama Ummu Ammarah, yang juga merujuk kepada Nusaibah, menunjukkan bahwa keteguhan seorang ibu dan istri tidak menghalanginya untuk tampil membela agama Allah. Ia tidak gentar menghadapi musuh bersenjata dan rela terluka demi membela Nabi dan Islam.
Tak hanya dalam Perang Uhud, Ummu Ammarah juga turut serta dalam Perjanjian Aqabah dan Perang Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar. Ini membuktikan bahwa peran wanita dalam jihad tidak bersifat sesaat, melainkan berlangsung sepanjang hayat mereka.
Rufaidah binti Sa'ad: Perintis Medis Islam
Satu lagi muslimah luar biasa di masa Rasulullah adalah Rufaidah binti Sa’ad, yang dikenal sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam. Ia mendirikan tenda medis di dekat medan pertempuran dan mengobati para prajurit yang terluka.
Keahlian Rufaidah tidak hanya dalam bidang pengobatan, tetapi juga dalam manajemen, karena ia memimpin tim perawat perempuan lainnya. Rasulullah SAW menghormatinya dan bahkan memberi izin agar tenda medis Rufaidah didirikan di area masjid jika ada kebutuhan darurat.
Ummu Sulaim: Keberanian dalam Keheningan
Ummu Sulaim, ibu dari Anas bin Malik, juga termasuk wanita yang berani. Ia membawa belati saat ikut dalam perang dan menyatakan kepada Rasulullah SAW bahwa jika ada musuh yang mendekatinya, ia siap membela Islam.
Ia juga dikenal karena kesetiaannya, ketabahan saat kehilangan anak, dan keteguhan hatinya dalam mendidik generasi muda seperti Anas bin Malik, yang kemudian menjadi salah satu perawi hadis ternama.
Hikmah dari Keterlibatan Muslimah dalam Jihad
Keterlibatan para wanita dalam medan perang atau perjuangan Islam di masa Rasulullah SAW memberikan pelajaran penting bahwa:
-
Wanita memiliki kapasitas perjuangan setara dengan laki-laki, meski bentuk kontribusinya bisa berbeda.
-
Islam tidak membatasi peran wanita hanya di rumah, tetapi memberi ruang luas selama sesuai syariat.
-
Jihad wanita bisa berupa peran fisik, medis, logistik, pendidikan, maupun doa dan kesetiaan.
Kesimpulan: Muslimah Pejuang adalah Warisan Teladan
Perjuangan muslimah di masa Rasulullah SAW menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai keberanian, dedikasi, dan peran aktif perempuan. Mereka adalah teladan sejati bagi para muslimah masa kini yang ingin berkontribusi dalam dakwah, pendidikan, kemanusiaan, dan pembelaan terhadap nilai-nilai Islam.
Di era modern ini, semangat juang mereka bisa diteladani melalui kontribusi dalam profesi, dakwah digital, pendidikan anak, atau peran sosial lainnya. Karena sesungguhnya, setiap wanita yang berjuang menjaga iman dan kemuliaannya, adalah bagian dari pasukan Islam.

Comments