Islam dan Majapahit: Dua Jejak yang Beriringan

 

Sumber Gambar: Sindo News

Masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M) dikenal sebagai puncak kejayaan Kerajaan Majapahit. Namun, di balik kebesaran kerajaan Hindu-Buddha ini, terselip kisah menarik tentang munculnya jejak Islam yang terekam dalam dua batu nisan beraksara Arab yang ditemukan di kawasan Jawa Timur. Temuan ini mengindikasikan bahwa Islam telah hadir dan dikenal di kalangan masyarakat lokal bahkan sejak masa kejayaan Majapahit.


Dua Batu Nisan: Bukti Konkret Awal Islamisasi

Dua batu nisan yang dimaksud ditemukan di kawasan Troloyo, Trowulan, Kabupaten Mojokerto — bekas pusat Kerajaan Majapahit. Batu nisan tersebut bertuliskan kalimat dalam bahasa Arab dan menunjukkan angka tahun 822 Hijriah atau sekitar tahun 1419 Masehi.

Salah satu nisan tersebut milik seorang perempuan bernama Malikhat al-Asyraf. Penulisan nama dan tahun wafat menunjukkan bahwa masyarakat Islam kala itu sudah cukup kuat untuk memakamkan anggota komunitasnya dengan tradisi pemakaman Islam yang tertib dan menggunakan inskripsi Arab.

Penemuan ini menjadi fakta penting bahwa Islam telah menyebar dan memiliki pemeluk aktif di pusat kekuasaan Majapahit, bahkan saat kerajaan ini masih berdiri tegak.


Islamisasi Jawa yang Berlangsung Bertahap

Meskipun Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha, proses Islamisasi di Nusantara berlangsung secara damai dan bertahap. Penyebaran Islam tidak dilakukan melalui peperangan, tetapi melalui dakwah yang halus — lewat perdagangan, pernikahan, pendidikan, dan seni budaya.

Para saudagar Muslim dari Gujarat, Arab, dan Tiongkok yang singgah di pelabuhan-pelabuhan penting seperti Gresik, Tuban, dan Surabaya membawa pengaruh besar dalam proses ini. Mereka tidak hanya menjual barang, tetapi juga menyebarkan ajaran tauhid.

Bahkan, tak sedikit kalangan bangsawan dan intelektual lokal yang tertarik kepada Islam karena nilai-nilainya yang egaliter dan rasional.


Konteks Politik dan Keberadaan Islam dalam Majapahit

Ada kemungkinan bahwa kalangan Islam yang hidup di sekitar pusat Majapahit memiliki posisi sosial tertentu — baik sebagai saudagar, pendidik, atau pelayan kerajaan. Meskipun status Islam belum menjadi agama resmi, kehadiran komunitas Muslim tidak dihalangi secara keras. Hal ini menunjukkan adanya ruang toleransi tertentu yang diberikan oleh Majapahit terhadap agama-agama lain.

Sebagian sejarawan bahkan menduga bahwa toleransi inilah yang memungkinkan lahirnya generasi awal tokoh-tokoh Wali Songo yang kemudian berperan besar dalam penyebaran Islam di abad ke-15 dan 16 M.


Hubungan Jejak Islam dan Lahirnya Kerajaan Islam di Nusantara

Penemuan batu nisan ini juga menjadi semacam penghubung antara era Majapahit dan awal berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara seperti Kesultanan Demak. Proses transisi dari pengaruh Hindu-Buddha ke Islam berlangsung dalam lintasan sejarah yang kompleks namun terukur.

Kesultanan Demak, yang didirikan oleh Raden Patah — tokoh yang diyakini masih memiliki hubungan darah dengan Majapahit — menjadi representasi nyata bagaimana unsur Islam mampu mengisi kekosongan kekuasaan pasca keruntuhan Majapahit.


Penutup: Mewarisi Jejak Toleransi dan Dakwah Damai

Jejak Islam pada masa Hayam Wuruk melalui peninggalan batu nisan bukan sekadar catatan arkeologis, tetapi juga simbol pentingnya proses dakwah damai dan harmonis yang telah terjadi berabad-abad lalu. Islam tidak datang untuk menghapus budaya, tapi meresapi nilai-nilai kebaikan yang ada dan menyalurkan ajaran tauhid dengan cara yang beradab.

Hari ini, jejak itu menjadi pengingat bahwa Islam di Nusantara tumbuh dari akar toleransi, pendidikan, dan keilmuan. Maka tugas generasi sekarang adalah melestarikan semangat tersebut — mengedepankan dialog, pemahaman, dan penghormatan terhadap sejarah yang mempersatukan.

Comments