ARKEOLOGI PENGETAHUAN MICHELE FOUCOULT

 ARKEOLOGI PENGETAHUAN MICHELE FOUCOULT

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Analisis Wacana Kritis

Dosen Pengampu : Sofi Aulia Rahma, M.Pd.

 



 

Disusun Oleh :

Moh. Faizul Mubin    (2030210064)

Uswatun Hasanah       (2030210068)

Desi Yogi Ndakiyatul Ilmi     (2030210079)

 

 

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TAHUN 2023

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Ada tiga hal yang tidak bisa lama disembunyikan, yaitu matahari, bulan, dan kebenaran”, begitu cetus Siddharta Buddha Gautama. Akan tetapi, “Apakah kebenaran itu?” tanya Pilatus kepada Yesus. “Jika seseorang ingin menjadi filsuf namun tidak menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan ‘Apa itu pengetahuan’ atau ‘Apa itu kebenaran’ maka dalam arti apakah orang bisa menyebutnya sebagai filsuf? Dan karena itu semualah saya mungkin lebih suka untuk mengatakan bahwa saya bukanlah seorang filsuf, meskipun demikian jika perhatian saya masih terkait dengan kebenaran, maka saya masih bisa disebut sebagai filsuf,’01 demikian tandas Michel Foucault.

Dalam arkeologi ilmu pengetahuan, Foucault yang bercermin pada pembahasan strukturalis mengenai bahasa, tertarik pada penyelidikan peristiwa-peristiwa diskursif, pernyataan-pernyataan yang dibicarakan dan dituliskan. Secara khusus, dia tertarik pada bidang pada pernyataan-pernyataan awal dibidang sejarah. Bagi Foucault, arkeologi dititikberatkan pada suatu objek, sesuatu yang tanpa konteks, artikel-artikel yang tersisa pada masa lalu, monument diam.

Dalam mengupas tentang objek, dia ingin bergerak jauh dari kekuasaan tertinggi subjek yang telah berkuasa.dalam arti lain,kekuasaan subjek memiliki batas-batas yang sama dengan kekuasaan subjek modernitas. Ini termanifestasi terutama dalam dominasi subjek manusia dalam antropologi dan humanism. Jadi, Foucault bermaksud menciptakan “metode analisis yang bersih dari semua antropologisme”. Bahkan dalam tema karyanya sendiri, Foucault berusaha menghindari pengertian subjek manusia atau author.[1]

 

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka pemakalah dapat menentukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1.     Apa itu Arkeologi  menurut Michel Foucault?

2.     Bagaimana penerapan Arkeologi pengetahuan menurut Michel Foucault?

C. Tujuan

1.     Untuk mengetahui apa itu Arkeologi menurut Michel Foucault

2.     Untuk mengetahui bagaimana penerapan Arkeologi pengetahuan menurut Michel Foucaunt

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Arkeologi Pengetahuan menurut Foucault

            Pendekatan  arkeologi  dipakai  Foucault  sampai  tahun  1970.  Ia mendefinisikan  arkeologi  sebagai  eksplorasi  sejumlah  kondisi  histori nyata dan spesifik,  dimana  berbagai  pernyataan  dikombinasikan untuk membentuk dan mendefinisikan suatu bidang pengetahuan yang terpisah serta  mensyaratkan  adanya  seperangkat  konsep  tertentu.  Setiap  objek historis  yang  berubah  tidak  boleh  ditafsirkan  dalam  perspektif  yang sama, sehingga diskursus senantiasa bersifat diskontinuiu. 

            Adapun prinsip-prinsip penting dalam arkeologi menurut Foucault  adalah sebagai berikut :

1.     Arkeologi  tidak  bersifat  alegoris.  Arkeologi  tidak  berusaha menentukan pemikiran, representasi, citra, tema, kesuntukan berpikir yng  terjadi  atau  muncul  dalam  diskursus-diskursus,  akan  tetapi arkeologi  ingin  menentukan  dan  menddefinisikan  diskursus  itu sendiri.

2.     Arkeologi  bukanlah  doksologi  tapi  analisa  diferensial  atas modalitas-modalitas  diskursus.  Arkeologi  tidak  ingin  menemukan kontinuitas, transisi-trfansisi tak terindera di permukaan yang datar yang menghubungkan satu diskursus dengan diskursus lain. Masalah yang menjadi  kajian  arkeologi  adalah  bagaimana  menentukan  dan mendefinisikan  diskursus  dengan  segala  spesifikasinya, memperlihatkan caara-cara diskursus membentuk aturan-aturan yang tidak  direduksi aturan  lain,  membuntuti diskursus  sepanjang  garis batas-garis batas eksteriornya agar dapat dikenali lebih dekat.

3.     Arkeologi bukanlah satu penciptaan psikologis, sosiologis, maupun antropologi.  Arkeologi tidak  ditata berdasarkan  figur-figur  mapan ouevre;  dia  tidak  mencoba  menggali  momen  diana  ouevre  tadi muncul  di  cakrawala  tak  bernama.  Dia  tidak  ingin  menemukan kembali  titik-titik  tempat  posisi  individu  atau  kelompok  sosial disaling-tukarkan satu sama lain.  

4.     Arkeologi merupakan sebentuk deskripsi sistematis terhadap obyek-diskursus.  Arkeologi  tidak  berusaha  merangkai  apa  yang telah dipikirkan, diinginkan, dicita-citakan, dialami,  dihasratkan  oleh manusia pada waktu tertentu yang terekspresi dalam diskkursus.[2]

            Dengan pendekatan arkeologi, Foucault dalam karyanya, The order of Things, menyelidiki asal usul ilmu kemanusiaan. Ia membagi sejarah Eropa  dalam  tiga  periode,  yakni  Renaissans,  klasik  dan  modern. Menurutnya  ada perbedaan  episteme  dari ketiga  periode  tersebut, dan satu  periode  bukan  merupakan  kelanjutan  periode  yang  lain.  Karena sejarah  bukan  merupakan  garis  sambung  antar  periode  namun merupakan perjalanan yang terfragmentasi secara diskontiniu.[3]

            Membahas pengetahuan dalam arkeologinya, pengetahuan (savoir) itu  sendiri  menurut  Foucault  adalah  apa-apa  yang  bisa  diucapkan seseorang dalam suatu praktek diskursif dan tidak bisa dispesifikasikan oleh  kenyataan  tersebut. Pengetahuan  merupakan  satu  ruang dimana subyek bisa menempati satu posisi dan berbicara  tentang obyek-obyek yang  dikenalinya  dalam  diskursus. Pengetahuan adalah wilayah koordinasi dan subordinasi  pernyataan-pernyataan  dimana  konsep tampak,  didefinisikan,  diaplikasikan,  dan ditransformasikan. Pengetahuan ditentukan oleh kemunginan penggunaan dan penyesuaian yang  diberikan  oleh  diskursus.  Terdapat  bangunan-bangunan pengetahuan  yang  tidak  terikat  dengan  sains,  akan  tetapi  tidak  ada pengetahuan  yang  tidak  memiliki  praktek  diskursif  partikular,  dan praktek  diskursif  apapun  bisa  didefinisikan  oleh  pengetahuan  yang dibentuknya.[4]

            Lebih jauh  lagi,  pengetahuan  bukan hanya akumulasi  linear  dari kebenaran-kebenaran  atau asal-usul  rasio, tetapi  juga meliputi  seluruh bentuk  diskoneksi,  dispersi  retakan,  pergeseran  akibat-akibatnya  dan aneka ragam bentuk  saling ketergantungan yang direduksi dalam aktus monoton  dari  fondasi  yang  terus  menerus  diulang-ulang.  Jadi pengetahuan bukan sesuatu yang given (ada dengan sendirinya).

            Dari  sini,  muncullah  yang  disebut  dengan  episteme,  yakni keseluruhan relasi yang menyatukan praktek diskursif, pada suatu masa yang  memunculkan  pola-pola  epistemologis,  sains-sains  dan  sistem-sistem  formal,  cara-cara  dimana  maasing-masing  formasidiskursif, transisi  menuju  epistemologisasi,  keilmiahan  dan  formulasi-formulasi ditempatkan dan beroperasi, penyebaran ambang batas yang terpisahkan satu  saama lain  arena pergeseran  waktu, relasi-relasi  sampingan yang barang kali terdapat di anatara pola-pola  empistemologis sejauh relasi-relasi tersebut menjadi bagian dari praktek-praktek diskursif lainnya dan berbeda sama sekali dengan praktek diskursifnya sendiri.[5]

            Dengan kata lain episteme bukan pengetahuan tetapi  suatu proses yang membentuk atau menciptakan pengetahuan.  Proses terbentuknya itu sendiri melaui beberapa tahap, yaitu positivitas, apriori dan arsip. 

 

 2. Penerapan Arkeologi pengetahuan menurut Michel Fouault

            Dalam karya dan pemikirannya, Foucault banyak membicarakan halhal baru dan cenderung asing dengan mendefinisikan tentang formasi, positivitas, praktek-praktek diskursif. Berbeda dengan sejarawan pada umumnya yang membicarakan sejarah dalam tema-tema umum seperti teori, perkembangan dan kecenderungan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah. Foucault masuk ke dalam pemahaman sejarah yang tidak lazim, melihat sejarah dari sudut pandang mikro, secara kritis masuk ke dalam sejarah tersebut untuk membongkar kepalsuan-kepalsuan dan kemungkinan rekayasa kekuasaan dalam penulisan sejarah. Ia ingin mendefinisikan-ulang sejarah tersebut.

            Salah satu yang menonjol adalah penggunaan kata diskontinuitas. Baginya sejarah bukanlah rangkaian peristiwa yang sambung-menyambung dari suatu titik ke titik lain yang pasti, melainkan bahwa dalam setiap peristiwa pasti terdapat diskontinu, yang mana hal ini berbeda jauh dengan para sejarawan pada umumnya. Foucault menulis sejarah dengan orientasi dan perspektif masa kini, karena sejarah adalah kebutuhan masa kini, bukan sekedar cerita masa lalu, sementara sejarawan pada umumnya saat itu berorientasai masa lampau.

            Dalam hal ini, Foucault memang memiliki pemikiran yang lebih visioner, dan sangat mungkin memunculkan ide-ide baru dan menciptakan pembaharuan. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman dengan segenap resiko atau konskuensinya. Yang mana tak sedikit orang menyebutnya “menyimpang”. Namun harus kita akui bawasanya ke-penyimpangan-an ini memang justru sesuatu yang riil adanya, urgent untuk diangkat ke permukaan, membutuhkan sentuhan dan ketekunan penelitian para pemikir/ilmuwan/sejarawan.

            Terbukti dengan ketekunananya dalam mempelajari tema-tema tabu seperti kegilaan, penjara, dan penyimpangan seksualitas. Tema-tema ini adalah tema-tema yang dianggap tabu, dikekang oleh kekuasaan dan tradisi. Namun jika kita memandang ilmu pengetahuan secara obyektif tentu anggapan tabu ini merupakan bentuk diskriminasi. Karena setiap wacana memiliki potensi yang sama untuk dipelajari, dikuak, dan diangkat ke permukaan. Menjadi bagian dari pengetahuan yang layak diketahui oleh semua orang.

            Foucault melahirkan pemikiran kekuasaan yang lebih maju. Berbeda dengan pandangan sejarawan/ilmuwan sebelumnya yang membatasi kekuasaan pada bidang-bidang ekonomi, politik, dan hukum, kekuasaan dalam pandangan kolonialisme dan kapitalisme. Foucault mengemukakan kekuasaan yang bersumber dari diri sendiri, yang bersumber dari cara kita memandang dan mengungkapkan kata-kata sehingga dapat terpancar ddalam memperlakukan lingkungan, termasuk terhadap aspek-aspek yang dianggap tiada atau menyimpang.

            Beberapa hal yang dikupas dan diteliti Foucault bisa dikatakan orisinil karena belum tersentuh oleh ilmuwan lain. Meskipun dalam pemikirannya, ia banyak berkiblat pada filosof lain. Namun ini semata-mata sebagai pembuka wacana dan kekritisannya saja.

            Jika Foucault tidak ingin dirinya disebut sebagai sejarawan, ini memang benar adanya. Karena ia tidak hanya mempelajari dan meneliti tentang sejarah meskipun dia memiliki peranan sangat penting dalam perkembangan sejarah namun ranah penelitian dan keilmuannya memang mencakup banyak bidang, berbagai paradigma ilmu pengetahuan. Psikologi, sosial, gender, politik, dan sejarah hanyalah salah satunya. Sehingga bisa dikatakan bahwa Foucault adalah filosof yang ahli sejarah.

            Namun, jika ditengok ke belakang pada pribadi Foucault, pemikiran dan penelitiannya tidak bisa dikataan seratus persen obyektif. Kecenderungannya untuk menguak hal-hal yang menyimpang dan tabu tidaak lepas dari kepribadiannya sendiri. Seperti halnya dengan diskursur seksualitas, bisa saja ia tertarik menguak diskursus tersebut karena itu berkenaan dengan dirinya yang memang seorang gay i . Sehingga MUNGKIN ada hasrat pribadi untuk mencari pembenaran (agar dianggap tidak menyimpang) atas penyimpangannya. Yang mana pada saat itu khususnya diskursus homoseksuaial adalah sesuatu yang sangat tabu.

            Akan tetapi, secara keseluruhan pemikiran Foucault cukup menarik dan fresh. Menantang untuk dicermati dan penting untuk dibicarakan.

Kesimpulan

            Wacana menimbulkan kebenaran dan pengetahuan. Pengetahuan menimbulkan efek kuasa atau menciptakan kekuasaan. kekuasaan mendorong munculnya pengetahuan. Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tak terpisakan.

Daftar Pustaka

Foucault, Michel. Arkeologi Pengetahuan.(edisi baru) 2012.             Yogyakarta:IRCiSoD.

Kali, Ampy. Diskursus Seksualitas Michel Foucault. 2013.Maumere:Ledalero.

Umanailo, M. C. B. (2014) ‘Pierre Bourdieu; Menyikap Kuasa Simbol’, OSF.              doi: 10.31235/osf.io/4txzu.

Umanailo, M. C. B. (2015) ‘Desa Sebagai    Poros Pembangunan Daerah’.             doi: 10.31219/osf.io/gp97z.

Umanailo, M. C. B. (2015) Ilmu Sosial Budaya Dasar. 1st edn. Namlea: FAM             PUBLISHING. doi: 10.17605/OSF.IO/4HPWC.

Umanailo, M. C. B. (2015) Masyarakat Buru Dalam Perspektif Kontemporer             (Kajian Kritis Perubahan Sosial di Kabupaten Buru), Mega Utama.             doi: 10.31219/osf.io/6d2g8.

Umanailo, M. C. B. (2016) ‘Keterbatasan penggunaan teknologi informasi             pada pelayanan dan pembelajaran di universitas iqra buru’.

     

Comments