Kearifan Lokal dalam Menyambut Ramadan: Dari Tabuh Bedug Dandangan hingga Meugang - A Rima Mustajab - Tradisi Ramadan di Indonesia kaya akan variasi dan keunikan di setiap daerah, mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah lokal yang mendalam. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam menyambut bulan suci ini, melalui berbagai ritual dan kebiasaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi-tradisi ini tidak hanya menandai awal Ramadan tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kultural di masyarakat. Dari tabuh bedug Dandangan di Kudus hingga Pawai Tanglong di Banjarmasin, setiap tradisi memiliki makna dan tujuan khusus yang menggabungkan aspek spiritual dan sosial. Memahami tradisi-tradisi ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Indonesia mengadaptasi dan merayakan Ramadan dengan cara yang mencerminkan kearifan lokal mereka.
1. Dandangan (Tabuh Bedug)
Tradisi Dandangan, yang dikenal juga sebagai tabuh bedug, merupakan salah satu bentuk perayaan menjelang bulan suci Ramadan di Kudus, Jawa Tengah. Tradisi ini diadakan sekitar 10 hari sebelum hari pertama Ramadan, sebagai upacara menyambut kedatangan bulan suci. Selama acara ini, masyarakat Kudus menggunakan bedug—sejenis drum besar yang terbuat dari kayu dan kulit—untuk menghasilkan suara khas yang dikenal dengan onomatopeia "Dandangan". Bunyi bedug ini dipercaya menjadi pertanda bahwa bulan Ramadan akan segera tiba.
![]() |
| Dandhangan Di Kabupaten Kudus (Republika) |
Meskipun tradisi ini juga dikenal di beberapa daerah lain, pelaksanaannya semakin jarang di kota-kota besar. Namun, masyarakat Kudus masih mempertahankan tradisi ini yang telah berlangsung selama puluhan tahun, sebagai bagian dari upaya melestarikan adat dan budaya lokal.
2. Munggahan
Munggahan adalah tradisi yang populer di Provinsi Jawa Barat untuk menyambut bulan suci Ramadan. Kata "Munggahan" berasal dari istilah "munggah", yang berarti naik atau meningkat. Tradisi ini dilakukan untuk menandai awal bulan Ramadan dan dianggap memiliki makna spiritual yang dalam.
Dalam konteks Munggahan, acara ini diyakini mampu meningkatkan derajat seseorang dan kualitas ibadah serta ketakwaan selama bulan Ramadan. Munggahan biasanya melibatkan kegiatan seperti berbagi makanan, berkumpul dengan keluarga, dan melakukan berbagai persiapan spiritual. Tradisi ini menggambarkan semangat masyarakat Sunda untuk menyambut Ramadan dengan cara yang meningkatkan kedekatan dengan Tuhan dan memperbaiki kualitas ibadah.
3. Suru Maca atau Suro’ Maca
Suru Maca, atau Suro’ Maca, adalah tradisi khas Ramadan dari Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan keturunan Bugis-Makassar. Tradisi ini diadakan sepekan sebelum bulan Ramadan dan melibatkan ritual meminta doa (Suro’) dan mendoakan (Maca).
Suru Maca memiliki makna penting dalam konteks spiritual dan sosial masyarakat Bugis-Makassar. Ritual ini tidak hanya sebagai persiapan menjelang bulan puasa tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Selain itu, Suru Maca berfungsi sebagai cara untuk membersihkan jiwa dan rohani sebelum memasuki masa puasa. Masyarakat yang mengikuti tradisi ini percaya bahwa dengan melaksanakan Suru Maca, mereka dapat memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan semangat ibadah yang lebih baik.
4. Meugang
Tradisi Meugang adalah salah satu kebiasaan unik masyarakat Aceh dalam menyambut bulan Ramadan. Meugang diyakini telah ada sejak era Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan berasal dari ungkapan ‘makmu that gang nyan’, yang berarti ‘makmur sekali pasar itu’. Ungkapan ini mencerminkan keramaian pasar menjelang Ramadan yang luar biasa dibandingkan hari-hari biasa.
Tradisi Meugang berawal dari kebiasaan para uleebalang (bangsawan) di Aceh yang membagikan zakat berupa makanan dan pakaian kepada kaum dhuafa, yatim piatu, dan fakir miskin. Selain itu, tradisi ini juga mencakup penyembelihan sapi yang dagingnya dibagikan secara merata kepada masyarakat, sebagai bentuk solidaritas sosial. Tradisi berbagi ini tidak hanya dilakukan menjelang Ramadan tetapi juga pada perayaan Idul Adha dan Idul Fitri. Meugang mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial dalam masyarakat Aceh.
5. Pawai Tanglong dan Bagarakan
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, terdapat dua tradisi khas saat bulan Ramadan: Pawai Tanglong dan Bagarakan Sahur.
**Pawai Tanglong** dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadan sebagai bagian dari perayaan malam Lailatul Qadar. Selama pawai ini, masyarakat menyalakan lampion dengan berbagai bentuk dan warna. Lampion-lampion ini melambangkan cahaya yang selalu bersinar selama minggu terakhir bulan Ramadan. Pawai ini diadakan setelah salat Isya dan menjadi momen penting untuk berkumpul dan merayakan keberkahan malam Lailatul Qadar.
**Bagarakan Sahur** adalah tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan memukul berbagai perabotan rumah tangga. Tradisi ini merupakan cara efektif untuk mengingatkan masyarakat akan waktu sahur dan menegakkan semangat bersama dalam menjalani ibadah puasa. Bagarakan Sahur telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas Ramadan di Kalimantan Selatan, memperlihatkan kekompakan dan keunikan budaya lokal dalam menyambut bulan suci.
Kesimpulan
Tradisi Ramadan di Indonesia menunjukkan kekayaan budaya dan keragaman cara masyarakat menyambut bulan suci dengan penuh makna. Tradisi seperti **Dandangan** di Kudus, yang melibatkan tabuh bedug untuk menandai awal Ramadan, **Munggahan** di Jawa Barat yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan, **Suru Maca** di Sulawesi Selatan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, **Meugang** di Aceh sebagai bentuk solidaritas sosial, serta **Pawai Tanglong dan Bagarakan** di Banjarmasin yang memeriahkan bulan Ramadan, semuanya mencerminkan peran penting budaya lokal dalam merayakan bulan puasa. Setiap tradisi ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual selama Ramadan tetapi juga mempererat hubungan antaranggota masyarakat, menunjukkan bahwa meskipun memiliki keanekaragaman, semangat Ramadan tetap menyatukan semua. Dengan melestarikan dan menghargai tradisi-tradisi ini, masyarakat Indonesia dapat terus menjaga identitas budaya mereka sambil menjalani ibadah puasa dengan penuh makna.
.jpg)
Comments