MAKALAH PANDANGAN ARTHUR JEFFERY TERHADAP AL-QUR’AN

 MAKALAH

PANDANGAN ARTHUR JEFFERY TERHADAP AL-QUR’AN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok

Mata Kuliah : Orientalisme dan Studi Qur’an

Dosen Pengampu : Dr. Abdul Karim, S. S., M.A.

 



Disusun Oleh Kelompok 9 :

1.     Ashni Fannida Istina'ima Putri  ( 2130110107 )

2.     Ahmad Muwahidah                   ( 2130110132 )

3.     Ishak Maulana                            ( 2130110130 )

 

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS

FAKULTAS USHULUDDIN

PROGAM STUDI  ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

2023

 

BAB I
PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Agama Islam memiliki ikatan yang sangat erat dengan bahasa Arab. Dan orang harus menguasai bahasa tersebut jika ingin mendalami agama Islam. Selain itu, al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, para ulama sangat menekankan penguasaan terhadap bahasa Arab bagi mereka yang ingin mendalami al-Qur’an. Apalagi bagi para mufti dan mujtahid yang berkepentingan dalam membuat fatwa tentang hukum Islam.

Perkara bahasa Arab yang sangat penting ini telah dimengerti oleh para orientalis yang mempelajari agama Islam. Bahkan Noldeke yang seorang orientalis juga menyatakan “bahasa Arab tidak akan mungkin menjadi bahasa dunia yang diakui jika tanpa al-Qur’an dan agama Islam”.[1]

Diantaranya orientalis yang mempelajari al-Qur’an dan benar-benar menemukan beberapa kosakata asing dalam al-Qur’an adalah Arthur Jeffery seorang orientalis berkebangsaan Australia. Ia menganggap al-Qur’an telah terpengaruh dengan kultur budaya Arab dan bangsa tetangganya seperti Syiria, Persia, dan Romawi. Kemudian terjadi infiltrasi kosakata dengan bahasa-bahasa di luar Arab. Sehingga terkesan al-Qur’an memiliki istilah yang sama dengan bahasa di luar Arab.

Arthur Jeffery menyatakan bahwa perlunya untuk membuat tafsir yang baru dan kamus al-Qur’an, karena karya tafsir yang selama ini tidak banyak memuat mengenai kosakata teknis serta makna asalnya. Hal tersebut sesuai dengan statementnya “kita membutuhkan tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir al-Qur’an”[2] dibawah ini lebih jelas akan dipaparkan pandangan Jeffery terhadap al-Qur’an.

 

B.    Rumusan Masalah

1.     Bagaimana biografi Ignaz Arthur Jeffery ?

2.     Apa saja Karya dan Pemikiran Arthur Jeffery ?

3.     Bagaimana Pandangan Arthur Jeffery terhadap al-Qur’an ?

4.     Bagaimana Analisis kritis pemikiran Arthur Jeffery ?

C.    Tujuan Penulisan

1.     Untuk Mengetahui biografi Arthur Jeffery

2.     Untuk Mengetahui Karya dan Pemikiran Arthur Jeffery

3.     Untuk Mengetahui Pandangan Arthur Jeffery terhadap al-Qur’an

4.     Untuk Mengetahui analisis kritis pemikiran Arthur Jeffery

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Arthur Jeffery

Arthur Jeffery lahir pada tahun 1892 di Melbourne, Australia. Ia meninggal pada tanggal 2 Agustus 1959 di selatan Milford. Jeffery adalah seorang profesor di bidang semiotika bahasa di Universitas Columbia.[3] Ia pada tahun 1923 menikah dengan Elsie Gordoen Walker, seorang sekretaris ketua di Universitas Amerika, Kairo.[4]

Studi formal kesarjanaan Arthur Jeffery diselesaikan di Universitas Melbourne, Australia dan mendapat gelar BA pada tahun 1918, serta gelar MA pada tahun 1920. Jeffry memulai karirnya di Kairo pada tahun 1921 sebagai dosen dalam Scholl of Oriental Studies (S.O.S) di American University, Cairo.

 Ketika menjadi dosen dalam S.O.S di Kairo, ia pun tertarik terhadap bahasa Arab. Dengan pemikirannya yang cemerlang, Jeffery menyelesaikan studinya dibidang Western Orientalists dengan hasil yang sangat baik. Pada tahun 1926 ia berhasil meraih gelar B. Th., pada tahun 1929 ia meraih gelar Ph. D kehormatan dari Edinburgh Universitas. Selain itu di Universitas yang sama, ia meraih D. Lit dengan derajat summa cum laude, pada tahun 1938.

Selama berkarir di S.O.S, Jeffery banyak melahirkan karya yang sangat berpengaruh dan memberi kontribusi terhadap studi Islam. di antara karyanya yang fenomenal, yaitu Materials for the History of the Text of the Qur'an yang diterbitkan di Leiden pada tahun 1937. Setelah lama ia berkarir di Kairo, pada tahun 1938 Jeffery terpaksa harus meninggalkan Kairo dan S.O.S, karena ia diberi amanah menjadi ketua jurusan Kajian Timur Tengah di Universitas Columbia.

B.    Karya dan Pemikiran Arthur Jeffery

Athur Jeffery merupakan tokoh orientalis yang sangat produktif dalam melahirkan karya-karya, baik berupa buku dan artikel. Di antara karyanya adalah The Foreign Vocabulary Of The Qur'an, diterbitkan oleh Oriental Institute Baroda, India pada tahun 1938. Karya ini berasal dari hasil penelitian Desertasinya, ketika ia sedang menempuh program Doktoral.

Selain itu, karya lainnya adalah Was Muhammad a Prophet From His Infancy?, The Textual History of the Qur'an, The Quest of the Historical Muhammad, The Orthography Of The Samarqand Codex, The Mystic Letters Of The Koran, A Variant Text of the Fatiha, Islam: Muhammad and His Religion, The Mystic Letters Of The Koran, dan The Textual History of the Qur’an.

Mengenai pemikiran Arthur Jeffery tentang Islam, khususnya mengenai Al-Qur’an dan sejarahnya, dapat dilihat dari stetemennya sebagai berikut: “Kita membutuhkan tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir Al-Qur’an.”[5]

Dalam pandangan Jeffery, Al-Qur’an yang ada sekarang ini sebenarnya telah mengalami berbagai ta’rif yang dibuat ‘Utsman bin Affan, al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi dan Ibn Mujahid. Menurut Jeffery, Utsman ra tidak sepatutnya menyeragamkan berbagai mushaf yang sudah beredar di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Selain itu, Jeffrey juga sama pendapat dengan para orientalis lain tentang usaha politik Utsman dalam melegitimasi mushafnya dan membakar sisa mushaf. Dalam makalah ini, akan dijelas beberapa pemikiran Jeffery dalam bukunya Foreign Vocabulary in the Qur’an tentang kosa kata non Arab dalam al-Qur’an yang merupakan hasil dari analisis historisnya dalam buku sebelumnya Progress in the Study of the Quran Text.

C.    Pandangan Arthur Jeffery Terhadap Al-Qur’an

Dalam analisanya, Jeffery mengganggap al-Qur’an adalah buku bahasa Arab pertama (first Arabic book), meskipun awalnya adalah sebuah syi’ir Arab, ditulis dan dikodifikasi dalam waktu yang tidak terlalu lama dan telah menimbulkan keraguan atas keaslian apa yang telah tertulis. Dalam penafsirannya, harus memperhatikan pendapat para ulama (ilmu tafsir) yang telah menafsirkan dengan sudut pandang bahasa Arab mereka, dengan sedikit pengecualian bahwa pemikiran filologi mereka hanya untuk kepentingan pengembangan pemikiran Muslim, dan dalam mengambil makna, selalu merujuk kepada Nabi dan Sahabat yang mendengarkan ucapannya.[6]

1.     Percampuran Bahasa A’jami dalam al-Qur’an

Arthur mempunyai harapan akan terbitnya kamus al-Qur’an yang dapat dikomparasikan dengan Worterbucher (kamus-red) perjanjian lama dan perjanjian baru. Untuk itu, diperlukan penggunan sumber ilmu filologi, epigrafi dan analisa teks untuk meneliti kosakata al-Qur’an karena kosa kata didalamnya terpengaruh oleh beberapa kosa kata non- Arab, seperti: Ethiopia, Aramaik, Ibrani, Syiriak, Yunani Kuno, Persia, dll. Dia berusaha memberikan satu kontribusi dengan mempelajari beberapa eleman bahasa selain Arab dalam kosa kata al-Qur’an.

Kajian Jeffery ini kemudian diterbitkan pada tahun 1938, dengan judul “The Foreign Vocabulary of The Qur’an”. Dalam bukunya tersebut, Jeffery membahas sekitar 275 kata didalam Al-Qur’an yang dianggap berasal dari kosa kata asing.[7]

Analisa filologis Jeffery membuka jalan bagi Ephraem Malki, seorang Doktor dibidang kajian Arab, warga negara Jerman yang berkebangsaan Lebanon. Malki dengan menggunakan nama samaran Christoph Luxemberg menggunakan kajian filologis mendekonstruksi otentitas Mushaf Ustmany, ia kemudian menerbitkan karyanya yang berjudul “Cara membaca al-Qur’an dengan bahasa Syiriak-Aramaik: Sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesulitan memahami bahasa al-Qur’an (Die Syiro-aramaeische Lesart des Koran: Ein beitrag zur Entschluesselung der Koransprache)”. Luxemberg mengklaim bahwa; bahasa al-Qur’an sebenarnya adalah bukan bahasa Arab melainkan banyak dipengaruhi oleh bahasa Syiriak-Aramaik, karena itu banyak kata atau ungkapan yang sering dibaca keliru dan sulit dipahami, kecuali merujuk ke Syiriak-Aramaik yang konon merupakan lingua franca pada masa itu.

Dalam kajian filologinya, Arthur Jeffery sangat dipengaruhi oleh Theodore Noldeke yang menulis buku The Origin of Koran. Dengan mengatakan bahwa dialah pengarang tentang batasan- batasan tentang penggungan filologi. Baginya, Noldeke lah yang memiliki literature yang sangat jelas tentang bahasa yang digunakan Orientalis dalam studi al-Qur’an dalam tidak ada satupun dari generasi sekarang yang mampu menandinginya.

2.     Akulturasi Budaya Arab Pagan Dalam Teks al-Qur’an

Jeffery juga berpendapat bahwa kesulitan dalam pembacaan al-Qur’an dikarenakan adanya kebingungan internal akibat banyak unsur yang masuk didalamnya ketika proses formatisasi. Dengan dalih Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab dan tumbuh besar di Arab yang notabenenya paganis, maka sangat mungkin terjadinya akulturasi ajaran pagan dalam Islam, contoh: ibadah kurban dan haji, munculnya nama dewa- dewa Arab pagan, takhayyul dalam berinteraksi dengan Jin.

Dia juga setuju dengan pendapat Rudolph yang menyatakan bahwa dalam banyak bagian al-Qur’an, Islam hanya sedikit menyinggung lapisan penyembah berhala saja, sehingga dengan membaca sepintas kita tahu Nabi Muhammad berencana menggambarkan ilhamnya bukan berdasar pada religiusitas hidup atau pengalaman di tanah kelahirannya, tapi dari kondisi agama monoinstik yang menjadi sesembahan bangsa Arab waktu itu.

Arthur Jeffery menyebutkan bahwa sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. setidaknya terpengaruh oleh beberapa bahasa berikut :

a.      Bahasa Abbysinian yaitu bahasa bangsa Ethiopia atau sering disebut juga Habasyah. Hal tersebut berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw. pada tahun Gajah yang terkenal karena Abrahah dari Habasyah yang berupaya menghancurkan Ka’bah, namun digagalkan burung Ababil atas kuasa Allah. Kemudian fakta lain bahwa salah satu pengasuh Nabi Muhammad saw. adalah Ummu Aiman adalah seorang perempuan Habasyah dan sudah tentu akan mengajarkan bahasa tersebut kepadanya.

b.     Bahasa Persia sebagai bahasa kerajaan Sasania Persia. Karena hubungan perdagangan bangsa Arab dan Persia sangatlah terlihat. Melihat sejarah Nabi yang pernah berdagang, sudah tentu beliau memahami bahasa Persia karena pergaulan beliau. Selain itu Nabi juga memiliki sahabat seorang Persia, an-Nadhr bin al-Harith yang selalu bercerita kepadanya tentang kerajaan Persia pada masa Rustam dan Isfandiyar.

c.      Bahasa Yunani yang merupakan bahasa imperium Byzantium Romawi yang menguasai Palestina dan Syiria, dan kedua tempat tersebut juga sering dikunjungi Nabi saat berniaga bersama paman atau kakeknya. Dan pada saat tersebut juga terdapat banyak penyair Arab yang menggunakan bahasa tersebut, seperti Umru’ul Qais, Hanif Uthman al-Huwairith.

d.     Bahasa India yang juga turut mempengaruhi bahasa Syiriac juga bahasa orang-orang Habasyah. Hal tersebut dapat dimengerti dari perjalanan para pedagang dan penjelajah Yunani dan Syiria yang menyebutkan adanya wilayah yang disebut sebagai India atau Hindia di daerah lembah Indus. Dan pernah disebutkan adanya Dionysius of the Tell Mahre, Michael of Syrian dan Epiphanius menyebutkan setidaknya ada sembilan kerajaan di India yang memiliki dialek bahasa yang hampir sama dengan Ethiopia serta Syrian.

e.      Bahasa Syria yang mempengaruhi daerah Syiria, Mesopotamia dan Najran yang mana disana banyak tinggal ummat Nasrani yang berdialek Syriac. Mereka juga melakukan perjalana dagang ke pasar terkenal di Makkah seperti Ukaz dan Dzu al-Majaz. Bahkan tulisan Arab model Kufi juga banyak terpengaruh dengan symbol model tulisan Syriac yang dimodifikasi. Nabi pada masa muda juga pernah bertemu pendeta Bahira yang seorang Nasrani. Hingga sekarang masih dapat ditemukan naskah-naskah gereja tua dalam bahasa Syriac yang dimiliki oleh umat Nasrani sebelum Islam.

f.      Bahasa Hebrew atau sering disebut Ibrani sebagai bahasa asli Yahudi. Yang mana bahasa tersebut masih digunakan oleh orang-orang Yahudi Madinah pada waktu itu, seperti Bani Quraidzah, Bani Qainuqa’, dan Bani Nadhir. Yang mana mereka juga berdagang perhiasan dan alat-alat perang untuk orang-orang Arab daerah Fadak, Khabar, dan tempat-tempat sekitar Makkah.

Arthur Jeffery mengungkapkan dalam bukunya, bahwa setidaknya ada sekitar 275 kosakata dalam al-Qur’an yang tergolong merupakan bahasa yang bukan asli Arab, namun dipengaruhi oleh bahasa lainnya seperti Ibrani, Syriac, Yunani, Ethiopia (Habasyah) dan lainnya.

Selain itu, Arthur Jeffery juga menggolongkan kosakata-kosakata tersebut ke dalam beberapa kelompok diantaranya, Kosakata non Arab dan non Semitik. Dengan contoh sebagai berikut :

زنجبيل yang sering diartikan sebagai jahe

استبرق yang sering diartikan sebagai kain sutera

نمارق yang sering diartikan sebagai bantal

Dalam tradisi Islam khususnya ilmu Tafsir, para ulama sudah pernah membahas hal tersebut di dalam buku-buku mereka. Dan mereka dalam menganggapi bahwa adanya kosakata asing dalam al-Qur’an juga berlainan pendapat. Sebagian besar mereka yaitu Imam Syafi’i, Ibnu Jarir, Abu Ubaidah, al-Qadhi Abu Bakar, dan Ibnu Faris berpendapat bahwa tidak mungkin ada kosakata asing dalam al-Qur’an yakni sesuai dengan ayat al-Qur’an yang ada. Justru kosakata asing menjadi bukti bahwa Allah telah memilihkan kosakata yang tepat dalam menyebutkan hal-hal yang tak ada dalam bahasa Arab.[8]

Adanya kosakata asing dalam al-Qur’an memiliki hikmah tertentu, 1) hal tersebut menunjukkan adanya mukjizat al-Qur’an, karena adanya kosakata tersebut, tidak ada seorangpun yang dapat membuat surat yang sama dengan al-Qur’an. 2) penyebutan kosakata tersebut dalam al-Qur’an dimaksudkan agar mempermudah dalam menerangkan sesuatu secara detail dan tidak terbawa menjadi kosakata yang bermakna umum.

 Menurut Abu Ubaidah bahwa al-Qur’an juga memiliki kosakata yang asing, namun secara kaidah kebahasaan, kosakata asing tersebut sudah mengalami Arabisasi dalam bentuk maupun maknanya. Proses transformasi bahasa tersebut ini adalah wajar karena itulah disebut arabisasi untuk memperluas bahasa Arab dalam mencakup makna-makna yang baru dan tidak ada dalam bahasa Arab.

D.    Analisis kritis pemikiran Arthur Jeffery

Sikap kritis Jeffery terhadap al-Qur’an diatas, menurut penulis dibangun oleh asumsi yang tidak mendasar. Karena dengan alasan seperti diatas, ia seolah menafikan sebuah kebudayaan yang sudah mengakar dalam diri orang Arab ketika itu, yaitu tradisi pengajaran secara lisan dan budaya menghafal. Jadi secara logika, seandainya ada manuskrip yang hilang, bukankah di antara para sahabat banyak yang mengafal al-Qur’an?.[9]

Sesungguhnya al-Qur’an turun dengan membawa ajaran dan syari’at yang sangat baru. Sehingga jika terdapat istilah atau kosa kata asing dalam al-Qur’an dari kitab atau ajaran umat terdahulu, maka al-Qur’an sebagai ajaran baru tentu memiliki makna baru bagi kosa kata asing tersebut. Jadi, kosa kata asing dan ajaran umat terdahulu sesungguhnya telah di-islamisasi-kan, artinya telah diisi dengan makna dan ajaran Islam.

Menurut Syamsuddin Arief pandangan orientalis yang menyatakan al-Qur’an banyak memuat kosa-kata asing itu sebetulnya keliru. Karena persamaan kosa kata al-Qur’an dengan bahasa-bahasa lain dari kitab terdahulu tidak mengharuskan al-Qur’an terpengaruh dengan bahasa-bahasa tersebut. Kosa-kata bisa saja sama, tapi konsepnya berbeda. Jadi, tidak bisa kita mengartikan suatu kata yang berasal dari kitab terdahulu sama maknanya dengan yang ada di dalam al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an memiliki makna dan maksud tersendiri yang lain dari kitab terdahulu tersebut.[10]

As-Suyuthi mengatakan bahwa adanya kata-kata asing dalam al-Qur’an tersebut mempunyai banyak hikmah, diantaranya:

1. Sebagai bukti bahwa al-Qur’an mencakup pengetahuan orang-orang terdahulu dan sekarang. Adanya kata-kata habasyah, Persia, romawi di dalam al-Quran, menunjukkan bahwa al-Qur’an mencakup semua ilmu, dan tidak hanya berkutat pada masyarakat Arab saja.

2. Menunjukkan tingginya derajat al-Qur’an dari kitab-kitab yang diturunkan terdahulu. Karena al-Qur’an selain berbahasa Arab, ia juga berbahasa Romawi, Persia, Habasyah. Berbeda dengan kitab-kitab lainnya, yang hanya berbahasa kaumnya saja dan tidak berbahasa kaum yang lain.

3. Menjadi bukti, bahwa al-Qur’an mencakup bahasa-bahasa dunia. Sebagaimana Nabi Muhammad saw.

4. Ayat ini menjadi dalil bahwa kitab yang dibawa Nabi Muhammad mencakup bahasa seluruh umat, meskipun kitab itu isinya mayoritas berbahasa Arab.[11]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari makalah ini dapat disimpulkan beberapa poin penting sebagai berikut:

  1. Arthur Jeffery berinisiatif untuk menulis Kamus al-Qur’an yang memuat kata- kata yang diserap dari bahasa selain Arab untuk dikomparasikan dengan kamus Injil perjanjian lama dan perjanjian baru, namun terlalu ceroboh memaknainya sesuai dengan makna asli untuk menenukan inkoherensi makna dalam ayat al-Qur’an.    
  2.  Dalam studi al-Qur’an, Arthur hanya melanjutkan presedennya Edward Sell dan Theodore Noldeke yang menggunakan ilmu filologi, epigrafik, filsafat historis, analisis teks, dll. Dalam bukunya Foreign Vocabulary of The Qur’an Jeffery mengkhususkan pada pembahasan makna kata- kata serapan dari bahasa asing dimana bahasa Aramik yang mendominasi.
  3. Pemahaman Jeffery bahwa Bahasa Arab hanya terbatas pada bahasa yang beredar pada zaman Nabi Muhammad SAW adalah keliru mengingat luasnya wilayah Arab dan panjangnya sejarah peradaban Arab dari zaman Arab Ba’idah (Arab yang sudah punah), Arab Musta’ribah, dan Arab pada zaman sekarang. Pembagian ini tidak diakui oleh Jeffery dalam karyanya mungkin karena akan menghambat penulisan dan mematahkan pemikirannya sendir
  4. Pada dasarnya masuknya kosa kata asing telah melalui proses Islamisasi makna istilah dan penggunaannya dan sudah terbakukan menjadi bahasa Arab. Fakta ini juga membuktikan universalitas kerasulan Muhammad SAW yang diutus dengan ‘bahasa kaumnya’.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-’A’zami, MM. (2006) “Sejarah Teks al-Qur’an dari Wahyu Sampai Kompilasi terj. Sohirin Solihin” Jakarta: Gema Insani.

Arief, Syamsuddin “Al-Qur’an, Orientalisme dan Luxemberg” dalam al-Insan. vol. 1

Armas, Adnin (2004) “Mengkritisi Gugatan Arthur Jeffery terhadap Al Qur’an”, Islamia vol. 1 No.2.

As-Suyuthi, Jalaluddin “al-Muhazzab fima Waqa’a fi al-Qur’an min al-Mu’rab” al-Lajnah al-Musytarikah li natsri at-turats al-Islamiy.

At-Tawwab, Ramadhan Abdu (1979) “Ushul fii al-Fiqh al-Arabiyah” Maktabah al-Khanajiy : Kairo.

Jeffery, Arthur (1935) “Progress in the Study of the Quran Text” The Moslem World vol. 25.

Jeffery, Arthur (1938) “The Foreign Vocabulary of the Qur’an” Oriental Institute : Baroda.

Jeffrey, Arthur (1958) “Islam: Muhammad and His Religion” New York: The Liberal Art Press.

S. Badeau, John (1960) “Arthur Jeffery-A Tribute” dalam The Muslim World. vol. 50.



[1] Ramadhan Abdu at-Tawwab, Ushul fii al-Fiqh al-Arabiyah (Maktabah al-Khanajiy, Kairo, 1979), hlm. 109

[2] Arthur Jeffery, The Foreign Vocabulary of the Qur’an (Oriental Institute, Baroda, 1938), hlm. vii

[3] Arthur Jeffrey, Islam: Muhammad and His Religion. (New York: The Liberal Art Press, 1958), hlm. 37.

[4] John S. Badeau, “Arthur Jeffery-A Tribute” dalam The Muslim World. vol. 50, 1960, hlm. 232

[5] Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Quran Text (The Moslem World vol. 25, 1935)

[6] Arthur Jeffery Foreign Vocabularies of The Qur’an (Baroda: Oriental Institute, 1938), p. vii

[7] Adnin Armas, “Mengkritisi Gugatan Arthur Jeffery terhadap Al Qur’an”, Islamia vol. 1 No.2, 2004

[8] Jalaluddin As-Suyuthi, al-Muhazzab fima Waqa’a fi al-Qur’an min al-Mu’rab (al-Lajnah al-Musytarikah li natsri at-turats al-Islamiy, daulah Imaarat al-Arabiyyah, T.Th ), hlm. 57

[9] MM. al-’A’zami, Sejarah Teks al-Qur’an dari Wahyu Sampai Kompilasi terj. Sohirin Solihin, dkk. (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 173

[10] Syamsuddin Arief, “Al-Qur’an, Orientalisme dan Luxemberg” dalam al-Insan. vol. 1

[11] Jalaluddin As-Suyuthi, al-Muhadzab fima Waqa’a fi al-Qur’an min al-Mu’rab, hlm. 63

Comments