Sejarah Panjang Bupati Pati dari Masa ke Masa: Dari Kadipaten Pesantenan hingga Era Modern

Sejarah Panjang Bupati Pati dari Masa ke Masa: Dari Kadipaten Pesantenan hingga Era Modern - Autiya Nila Agustina - Kabupaten Pati, sebuah daerah yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah, dikenal sebagai Bumi Mina Tani. Selain kaya dengan potensi sumber daya alam, Pati juga menyimpan sejarah panjang dalam bidang pemerintahan, khususnya melalui jabatan Bupati Pati. Sejak era Kadipaten Pesantenan pada abad ke-14 hingga kepemimpinan modern abad ke-21, jabatan bupati telah mengalami transformasi yang menarik untuk ditelusuri.

Artikel ini akan membahas secara lengkap perjalanan para Bupati Pati dari masa awal berdirinya kadipaten, masa kolonial, hingga era reformasi dan kontemporer. Tak hanya menyebutkan nama dan periode, kita juga akan menyoroti konteks sejarah, dinamika politik, serta kontribusi masing-masing pemimpin dalam membentuk wajah Pati hari ini.


---

Asal Usul Jabatan Bupati Pati

Dari Kadipaten Pesantenan ke Kadipaten Pati

Sejarah Bupati Pati dapat ditarik ke abad ke-14 ketika wilayah ini masih berupa Kadipaten Pesantenan. Nama Pesantenan merujuk pada kawasan pesisir yang ramai aktivitas perdagangan dan pertanian. Dalam catatan sejarah, tokoh pertama yang memegang jabatan adipati di kawasan ini adalah Raden Tambranegara sekitar tahun 1300-an.

Pada masa itu, jabatan adipati berfungsi sebagai penguasa daerah yang berada di bawah kerajaan besar, seperti Majapahit dan kemudian Kesultanan Demak. Seiring waktu, wilayah Pesantenan berubah nama menjadi Kadipaten Pati, dan sejak saat itu nama Pati semakin dikenal sebagai pusat pemerintahan.


---

Daftar Bupati Pati dalam Sejarah

1. Raden Tambranegara (1300-an)

Sebagai pejabat pertama, Raden Tambranegara tercatat sebagai adipati di Kadipaten Pesantenan dan Pati. Pada masanya, wilayah Pati masih berbentuk kawasan hutan dan sawah yang perlahan-lahan dibuka menjadi permukiman.

2. Raden Tandanegara (1330)

Penerus Tambranegara, Raden Tandanegara, memperkuat struktur pemerintahan Kadipaten Pati. Meski informasi detail mengenai masa kepemimpinannya minim, namun ia diyakini berperan penting dalam memperluas pengaruh Pati di kawasan pesisir utara Jawa.

3. Kayu Bralit (1511–1518)

Pada awal abad ke-16, muncul nama Kayu Bralit yang menjabat sebagai adipati. Era ini merupakan masa transisi dari pengaruh Majapahit yang mulai runtuh menuju kekuasaan Kesultanan Demak.

4. Ki Ageng Penjawi (1568–1576)

Nama Ki Ageng Penjawi dikenal luas dalam sejarah Jawa. Ia adalah tokoh penting yang muncul setelah gugurnya Arya Penangsang, Adipati Jipang. Sebagai Adipati Pati, ia berperan memperkuat posisi Pati dalam struktur Kesultanan Pajang.

5–7. Dinasti Djajakoesoema (1577–1640)

Selama hampir enam dekade, Pati diperintah oleh para adipati bergelar Djajakoesoema (I–III). Pada masa ini, Pati mulai berkembang pesat baik dalam bidang pemerintahan maupun perdagangan. Namun, periode ini juga ditandai konflik internal dan perebutan kekuasaan.

8. Pemerintahan Kosong & Terpecah

Pada suatu masa, pemerintahan Pati sempat kosong dan pecah menjadi dua kekuasaan: Katemenggungan (dipimpin Tumenggung Wetanan & Tumenggung Kulonan) serta tujuh Kademangan seperti Tenggeles, Selowesi, hingga Juwono. Fragmentasi ini menunjukkan kompleksitas politik lokal.

9–17. Masa Mangun Oneng hingga Deandels

Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, jabatan adipati dipegang oleh keluarga Mangun Oneng, Pamegat Sari, hingga Pangeran Arya. Saat pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, Bupati Pati bahkan mengalami pembuangan ke Belanda, menunjukkan betapa pentingnya posisi Pati di mata kolonial.

18–28. Masa Kolonial Belanda (1807–1945)

Nama-nama seperti Kiai Adipati Tjondronegoro, Raden Bagoes Mita, hingga R.T.A Milono muncul di masa ini. Sebagian dari mereka bahkan dimakamkan di Pati dan Kudus, dengan jejak sejarah berupa prasasti masjid dan kompleks pemakaman kuno. Pada masa kolonial, bupati tak hanya menjadi pejabat lokal, tetapi juga bagian dari sistem pemerintahan Hindia Belanda.

29–34. Awal Pemerintahan Indonesia (1945–1959)

Setelah kemerdekaan, posisi Bupati Pati diisi oleh tokoh-tokoh nasionalis seperti M. Moerjono Djojodigdo, Raden Soebijanto, hingga R. Soemardi Soeroprawiro. Masa ini penuh gejolak, termasuk peristiwa pemberontakan PKI/Muso di Madiun yang juga berdampak pada Jawa Tengah.

35–41. Masa Orde Baru (1967–2001)

Pada era Orde Baru, jabatan Bupati Pati kerap diisi oleh perwira militer, seperti Kol. Inf. Panudju Widajat, Kol. Pol. Edy Rustam Santiko, hingga Kol. Art. H. Yusuf Muhammad. Hal ini sejalan dengan kebijakan sentralistik pemerintahan Soeharto yang memberi peran besar pada ABRI.

42–44. Era Reformasi hingga Kontemporer

H. Tasiman, SH (2001–2011) memimpin dua periode dengan fokus pembangunan infrastruktur.

H. Haryanto, SH, MM, M.Si. (2012–2022) melanjutkan pembangunan daerah dengan menggandeng wakil bupati yang berbeda di tiap periode.

H. Sudewo, S.T., M.T. (2025–sekarang) adalah bupati terkini dengan wakil Risma Ardhi Candra, yang dipilih melalui pemilu demokratis tahun 2024.



---

Konteks Sejarah Politik Pati

Masa Hindu-Buddha dan Islamisasi

Pati sempat dipengaruhi Majapahit, kemudian Demak. Proses Islamisasi terlihat dari tokoh seperti Ki Ageng Penjawi yang menjadi bagian penting dalam penyebaran Islam di wilayah ini.

Masa Kolonial Belanda

Pati menjadi salah satu daerah strategis, baik secara ekonomi (pertanian & perdagangan) maupun politik. Tak heran jika beberapa bupati kala itu mendapat tekanan dari pemerintah kolonial.

Masa Kemerdekaan

Bupati di era awal republik menghadapi tantangan besar: pemberontakan, gejolak politik, hingga transisi dari sistem kolonial ke pemerintahan republik.

Orde Baru

Dominasi militer dalam jabatan bupati merupakan ciri khas era ini. Meski demikian, pembangunan infrastruktur dan modernisasi desa mulai dilakukan secara masif.

Era Reformasi

Setelah tahun 2000, pemilihan bupati semakin demokratis. Peran partai politik kian besar, dan masyarakat lebih aktif mengawasi jalannya pemerintahan daerah.


---

Peran Bupati Pati dalam Pembangunan

Sepanjang sejarahnya, bupati Pati memiliki peran yang berbeda sesuai konteks zamannya:

1. Sebagai penguasa lokal di masa kerajaan dan kolonial.


2. Sebagai tokoh penyebar agama dan budaya, misalnya Ki Ageng Penjawi.


3. Sebagai administrator modern yang mengatur jalannya pemerintahan daerah di era reformasi.



Kontribusi mereka dapat dilihat dari peninggalan fisik seperti masjid, kompleks makam, hingga sistem irigasi dan pertanian yang masih ada hingga sekarang.


---

Tantangan dan Harapan ke Depan

Kini, di era kepemimpinan Bupati Sudewo (2025–2029), Kabupaten Pati menghadapi berbagai tantangan:

Percepatan pembangunan infrastruktur.

Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.

Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Penanganan isu korupsi dan transparansi pemerintahan.


Harapan masyarakat Pati adalah agar bupati tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.


---

Penutup

Sejarah panjang daftar Bupati Pati dari abad ke-14 hingga abad ke-21 mencerminkan dinamika politik, budaya, dan sosial yang kompleks. Dari Raden Tambranegara hingga Sudewo, para pemimpin ini meninggalkan jejak dalam perjalanan Kabupaten Pati.

Dengan memahami sejarah ini, kita tidak hanya menghormati jasa para leluhur, tetapi juga mendapat pelajaran berharga untuk membangun Pati yang lebih baik di masa depan.

Comments